(One Side Triangle (Segitiga satu sisi)). Seni Mempengaruhi Fikiran Orang Part II

Posted on February 28, 2013

5


Namun, apabila lawan bicara Anda sama sekali tida mengetahui informasi dari sisi yang berbeda/sisi yang lain,sebaiknya Anda tidak menggunakan pesan dua arah. Sebaliknya, gunakan saja pesan satu arah dan “paksakan” pemikiran Anda tanpa memberikan perbandingan apa pun. Andaikan kita mengulang contoh toko sepatu tadi. Apabila kita yakin bahwa si pembeli belum melihat atau mendapatkan informasi apa pun tentang sepatu yang lebih baik di toko lain, Anda tidak perlu membuat perbandingan sama sekali. Anda tidak perlu mengatakan hal-hal seperti ‘Anda tahu sepatu di toko sebelah? Harganya mahal sekali.” Hal ini sungguh tidak perlu dikatakan karena dengan mengatakannya Anda secara tidak langsung memberi informasi kepada lawan bicara Anda bahwa ada sesuatu yang menarik perhatian Anda. Secara tidak langsung, informasi Anda itu akan menjadi perhatian lawan bicara Anda. Meskipun Anda berusaha memberikan informasi negative tentang sepatu di toko sebelah, hal ini tetaplah salah, terlepas dari informasi apa pun yang Anda berikan. Kata-kata Anda ini akan membuat lawan bicara Anda menjadi sadar mengenai keberadaan sesuatu yang lain, yang mungkin harus diperhatikan juga.

 

Bayangkan saja, orang yang tadinya hendak membeli sepatu di toko Anda, kini mungkin berubah pikiran dan berkata, “Hm… mungkin sepatu di sana memang lebih mahal. Tapi, siapa tahu kualitas sepatunya lebih baik?” Ingatlah bahwa informasi—atau apa pun itu—yang buruk bagi Anda tidak selalu berarti buruk di mata orang lain! Menjelek-jelekkan sesuatu dapat membuat orang lain peduli pada sesuatu itu dan menghasilkan antipati terhadap Anda! (Berhati-hatilah saat berkata-kata!) Atau, andaikan Anda sedang mengejar seorang kekasih. Lalu, dengan tidak bijaksana Anda membuat perbandingan antara diri Anda dengan orang lain yang sebenarnya tidak pernah ada. Itu sebuah kesalahan besar! Jangan pernah mengatakan, “Lebih baik kamu menjadi kekasih saya karena saya sayang kamu. Kamu tidak tahu, bukan, kalau si JONI teman kampusmu itu juga menyukaimu? Tapi, Joni itu tukang bohong, enggak cakep lagi! Mendingan kamu sama saya kan?”

Kata-kata di atas adalah suatu hal paling bodoh yang pernah dikatakan orang ketika menginginkan sesuatu. Mengapa demikian? Itu karena, kendati Anda menjelek-jelekkan pihak ketiga, secara tidak sadar Anda juga member informasi tentang adanya pihak ketiga. Ini sama halnya dengan contoh kasus toko sepatu tadi. Anda membuat lawan bicara Anda “sadar” tentang sesuatu yang selama ini ia sendiri tidak pernah ketahui! Ingatlah sekali lagi, memburuk-burukkan sesuatu dapat membuat orang lain sadar dan peduli” pada sesuatu itu dan mengundang antipati terhadap Anda.
Ada sebuah contoh lain yang cukup menarik tentang pemberian informasi yang tidak seharusnya terjadi. Simaklah dengan saksama kisah berikut ini:

Alkisah ada sebuah keluarga yang baru saja mempunyai seorang pembantu yang datang dari desa terpencil. Pembantu ini belum pernah bekerja di kota sebelumnya sehingga dapat dikatakan masih sangat polos dalam berbagai hal, termasuk membaca. Suatu ketika sang Tuan dari pembantu tersebut melihat berita di sebuah surat kabar tentang pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pembantu rumah tangga terhadap majikannya. Lalu, dengan serta-merta sang Tuan memanggil pembantu barunya dan menceritakan kejadian keji yang baru saja dibacanya. la mengatakan keburukan yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang pembantu rumah tangga yang baik. la mengatakan bahwa hal itu sangat keji, penuh dosa, dan biadab.

Bila kita memerhatikan cerita di atas, secara tidak langsung sang Tuan memberitahu si pembantu bahwa membunuh majikan sangatlah tidak baik dan menakutkan. Secara bawah sadar, sang Tuan mendidik pembantunya untuk tidak melakukan hal yang sama dengan apa yang dibacanya. Lalu, bagaimana menurut Anda? Baikkah hal itu? Mungkin saja Anda berkata itu baik. Namun, sebenarnya itu adalah kesalahan. Ingatlah bahwa si pembantu adalah seorang yang baru tiba dari desa, polos, dan bahkan tidak dapat membaca. Dan, menurut saya, pemberian informasi baru dari sang Tuan itu tidak diperlukan karena pengetahuan itu bersifat negatif. Mungkin saja tujuan dari pemberian informasi tersebut baik. Akan tetapi, akhirnya si pembantu yang tadinya tidak memiliki konsep tentang pembantu yang mampu membunuh majikannya, kini mendapatkan konsep baru. Si pembantu menjadi sadar bahwa hal semacam itu ada, pernah dilakukan, dan mungkin bisa dilakukan.

Contoh berikutnya adalah tentang ketakutan sebagian orang kepada hantu. Mengapa Anda takut kepada hantu? Itu karena konsep hantu ada pada diri Anda. Semenjak kecil Anda diberitahu bahwa hantu itu menyeramkan, menakutkan, dan sangat berbahaya bagi kita, manusia. Bukan begitu? Bayangkan bila kita tidak pernah mengajarkan tentang apa itu hantu kepada anak kita. Kira-kira apakah suatu saat nanti, ketika ia sudah besar, ia akan takut pada hantu? Saya pikir tidak! Bagaimana mungkin seseorang bisa merasa takut akan sesuatu hal bila ia sendiri tidak memiliki konsep tentang hal itu. Apakah Anda setuju dengan saya? Oleh karena itu, kita harus sangat berhati-hati dalam memberikan informasi kepada seseorang. Bila dirasa tidak perlu, jangan berikan! Itu sama saja Anda memberitahu maling di mana Anda menyimpan uang. Tidak bijaksana, bukan?

Bersambung pada postingan selanjutnya. Postingan selanjutnya(Insyaallah) adalah Induksi dan Deduksi Bawah Sadar. Jika belum membaca postingan sebelumnya, baca di sini.