Yang mengetahui dan yang mempercayai

Posted on August 24, 2012

0


ImageMengetahui dan mempercayai. Saat kamu mengetahui tak ada apa-apa di kegelapan malam. Tak ada hantu, tak ada parakang dan tak ada poppo’. Tapi saat kamu berjaan di kegelapan malam, pada suasana yang mencekam,  maka kamu tetap mendapati  dirimu dirudung ketakutan, meskipun hanya sekadar ketakutan yang terselubung. Itu berarti di fikiranmu masih menyisakan kepercayaan bahwa ada ‘sesuatu’ di gelapan. Saat kamu sudah mengetahui bahwa mayat tidak bisa memberikan mudharat apapun kepadamu, tapi kamu masih tetap takut mendekati kuburan yang baru saja dikuburkan mayat di dalamnya meski hanya ketakutan terselubung, berarti kamu masih saja percaya dengan hantu orang mati. Untuk mereka yang takut(phobia) dengan kecoak sekalipun sebenarnya sudah mengetahui jika kecoak yang sekecil itu tidak mungkin mencelakakannya, tapi saat melihat kecoak kamu akan menyaksikan mereka berteriak histeris karena takut, berarti mereka masih saja percaya dengan kecoak yang bisa mencelakakan.

Begitulah perbandingan antara pengetahuan dan percaya, antara ilmu dan iman. Boleh jadi kita telah mengilmui sesuatu, tapi ilmu itu belum masuk ke hati jadilah ilmu itu hanya sebatas ilmu. Boleh jadi pengetahuan kita tentang agama ini sudah mencapai ‘titik tertinggi’ tapi itu tidak serta merta membuat kita takut kepada Sang Pemilik Ilmu bahkan tidak sedikit menjadikan kita sombong dan takabbur. Astagfirullah.

Dalam Hipnotism, di kenal ada dua fikiran: fikiran sadar dan fikiran bawah sadar. Fikiran sadar itu menyimpan pengetahuan, dan fikiran bawah sadar menyimpan kepercayaan. Saat fikiran bawah sadar beradu dengan fikiran sadar maka yang menang adalah fikiran bawah sadar karena ia memiliki kekuatan 88% dari fikiran sadar. Itulah sebabnya seberapapun pengetahuan yang kamu miliki tentang ketidakadaan hantu, tapi jika kamu berjalan sendiri di kegelapan malam, kamu akan tetap merasa takut. Seberapapun pengetahuan perokok tentang bahaya merokok dia tetap enak saja memilih untuk tetap merokok, meskipun fikiran sadarnya sangat ingin berhenti merokok. Jika percaya sama dengan iman, maka kekuatan iman itu lebih dahsyat daripada kekuatan ilmu. Perbandingannya adalah 88% : 12%. Dahsyat sekali.

Tapi apakah cara kamu beragama sampai hari ini hanya bermodalkan kepercayaan? Jika jawabannya adalah ya, maka kamu sebenarnya beragama dengan cara yang tidak lengkap. Cara beragama kamu sepenuhnya hanya menggunakan kontrol bawah sadar. Lingkungan tempat dimana kamu tumbuh dan dibesarkan itulah membentuk kepercayaan kamu. Kamu belum sepenuhnya  melakukan pencarian kebenaran dengan menggunakan kontroln fikiran sadarmu. ‘Kebetulan’ saja kamu tumbuh dan berkembangan di lingkungan muslim sehingga kamupun dibuatkan KTP dengan keterangan beragama islam. Setelah itu kamu percaya begitu saja. Tapi anehnya, saat agama ini dilecehkan maka kamulah orang yang berada di garda terdepan untuk membela kepercayaanmu. Harta dan jiwamu bisa kamu pertaruhkan. Tiba-tiba saja kamu memiliki kekuatan yang tak terhingga untuk bisa bergerak. Meski hanya bermodalkan kepercayaan. Tanpa pengetahuan. Maka jangan sangka pemabuk itu tidak akan marah ketika kepercayaannya dilecehkan. Mereka sudah terlanjur percaya, dan kepercayaannya bisa melumpuhkan logikanya.

Hal sebaliknya yang biasa kita saksikan. Adalah mereka yang berilmu tapi ilmunya tidak sampai di hati. Jika saja pemabuk itu berada di garda terdepan untuk membela apa yang dia percayai, maka mestinya engkau yang sudah memiliki ilmu lebih berhak untuk marah. Jika beberapa gereja di Barat melakukan pemboikotan terhadap produk Israel, maka engkau yang punya kepercayaan bahwa muslim di palestina adalah saudara seharusnya lebih bisa melakukan lebih dari itu. Karena satu rupiah yang engkau belanjakan untuk membeli produk Israel adalah sama dengan satu buah peluru yang engkau tancapkan di dada anak-anak Palestina. Mana ilmumu? Engkau yang sudah mengilmui bahwa Allahlah yang mengatur rezeki dan sekali-kali rezekimu tidak akan tertukar, lalu mengapa di dadamu masih menyisakan ketakutan jika kita dililit masalah ekonomi. Jika kamu mengetahui bahwa Allahlah yang menyembuhkan, lalu mengapa ingatanmu untuk pertama kalinya ketika sakit adalah obat, dokter bahkan dukun. Jika kamu mengetahui bahwa Allahlah yang paling pantas ditakuti, lalu mengapa masih takut miskin, masih takut kegelapan, masih takut hantu,masih takut meninggalkan orang yang dicintai(takut kematian). Jika kamu mengetahui bahwa tidak ada seseorangpun yang terbebas dari kesalahan lalu bagaimana bisa kamu masih mengangung-agungkan seorang yang kau sebut sebagai ulama seolah dialah yang paling benar dan yang lain salah.

Dalam agama islam, tidak ada tempat bagi yang tidak berakal. Syarat untuk melakukan kewajiban agama adalah berakal. Agama ini tidak sekadar percaya begitu saja. Tapi pengetahuan dan kepercayaan itu mesti berjalan berbarengan. Kita tidak sedang membandingkan lebih baik mana antara kepercayaan dan pengetahuan sebagaimana Allah tidak membedakan antara iman dan ilmu. Orang beriman harus berilmu, dan orang berilmupun butuh iman. Bukanlah sebuah aib jika Allah menakdirkan kamu tumbuh di lingkungan muslim, itu adalah keberkahan. Kamu adalah manusia pilihan Allah untuk dijadikan sebagai seorang muslim, namun tidak sampai di situ saja. Kamu harus bisa membuktikan kalau apa yang kau percayai itu benar, seperti Ibrahim khalilullah saat berkata, “Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.” ( QS. Al Anbiyaa’: 56).

Maka katakanlah ini kepada mereka dengan penuh keyakinan: Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan argumentasi yang jelas. Maha Suci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang yang menyekutukan (bertuhan kepada selain Allah)”.( QS. Yusuf : 108)

Artikel terkait: