Kepada sang pencari kebenaran

Posted on August 24, 2012

3


ImageKeluarlah dari penjara fikiran! Fikiran kita biasanya bergantung pada tiga hal:

  1. Di lingkungan mana kita tinggal.
  2. Kepada siapa kita belajar.
  3. Kitab/buku apa yang dibaca.

Ketiga hal di atas adalah informasi yang akan masuk ke alam bawah sadar kita.  Jika sejak  kecil/ dulu kita sudah terbiasa menerima informasi melalui tiga hal di atas. Maka informasi itu akan menjadi referensi yang disimpan di bawah sadar kita untuk menentukan benar atau salahnya sebuah informasi baru dikemudian hari. Misalnya informasi yang kita dapatkan sejak kecil adalah bahwa babi itu menjijikkan, maka itu akan menjadi referensi. Saat anda melihat babi atau seseorang memelihara babi apalagi menggendongnya, maka andapun merasa jijik. Meskipun anda belum memiliki ilmu yang jelas tentang babi. Sebaliknya, orang yang sedari kecil mendapatkan informasi bahwa babi itu tidak menjijikkan bahkan sama dengan hewan peliharaan lainnya, maka dia tidak akan merasa risih dengan babi bahkan sampai memakannyapun tidak jadi masalah. Dan diapun akan merasa aneh dengan orang yang berpendapat bahwa babi itu menjijikkan.

Jika kita tarik ke hal yang lebih luas, maka kita mendapati bahwa fenomena inipun berlaku dalam kehidupan beragama kita. Kita akan merasa asing satu dengan lainnya karena adanya perbedaan referensi yang kita dapatkan melalui tiga hal di atas. Tiba-tiba saja kita merasa jijik menyaksikan mereka yang berbeda referensi dengan kita lalu menghakiminya kafir lalu kita membayangkan bagaimana neraka melahap daging dan tulang-belulangnya. Lalu timbullah sikap sombong itu, bahwa kitalah yang paling benar. Kitalah yang paling berhak dengan surga. Dan tidaklah mendapatkan apa-apa bagi orang yang sombong itu kecuali kebenaran akan semakin menjauh darinya dan neraka akan semakin dekat dengannya. Na’udzubillah.

Hal lainnya lagi adalah tentang budaya. Kita sudah terlanjur menerima informasi tentang keunggulan Barat dari Timur. Dari dulu guru ataupun dosen kita banyak bercerita tentang bagaiaman kehebatan dan keunggulan orang-orang Barat dalam berbagai hal. Maka jadilah kita pengagum Barat. Segala sesuatu yang dating darinya kita anggap sebagai sebuah kebenaran. Dan jadilah kita asing dengan budaya sendiri. Jika kita sandingkan antara orang yang bersurban lagi berjenggot dengan orang yang berpakaian hip-hop lagi necis atau berjas lagi berdasi maka fikiran yang sering muncul adalah yang bersurban dan berjenggot itu keturunan onta sedangkan yang berjas dan berdasi itu orang yang maju.

Wahai, alangkah dekilnya kita berfikir. Membenarkan pendapat sendiri dengan ilmu tapi terkadang kita menghakimi tanpa ilmu. Menyedihkan.

Bisakah kita hidup di dunia ini tidak hanya mengandalkan salah satu bagian dari fikiran kita. Tuhan telah menganugrahi kita dua fikiran: Fikiran sadar dan bawah sadar. Dan kita harus memanfaatkan kedua-duanya tanpa membedakannya. Kebiasaan kita adalah hanya menggunakan salah satu dari potensi itu. Ada orang yang terlalu menggunakan fikiran bawah sadarnya sehingga ia lupa untuk berfikir logis. Ada juga yang terlalu logis sehingga lupa menggunakan kepercayaannya. Ketahuilah bahwa hakim menghakimi seperti yang saya sebutkan di atas lebih banyak bersumber dari fikiran bawah sadar kita. Dan itu belum cukup menandakan bahwa diri kita seorang pencari kebenaran yang sejati. Seorang pencari kebenaran sejati itu tidak pernah berhenti mencari. Ia terus berjalan. Bahkan ia seolah tidak peduli apakah dia benar atau salah di saat sekarang ini. Yang ia tahu adalah bagaimana ia memanfaatkan segenap potensi yang dia miliki untuk terus mencari kebenaran. Seorang pencari kebenaran seolah tidak peduli dengan berbagai macam pendapat yang ia dapatkan, ia hanya peduli dengan kejujurannya dalam mengolah informasi itu di fikirannya. Pencarian kebenaran seharusnya tidak berhenti pada satu titik lalu ia puas dengannya. Ia terus berjalan dan berjalan hingga Tuhan memanggilnya ke haribaannya. Dan ia dapat dua pahala ketiak pencariannya itu benar-benar menemukan kebenaran dan mendapat satu pahala jika pencariannya itu meleset dari apa yang ia cari.

Terakhir. Semoga ayat berikut ini bisa menjadi bahan tadabbur bagi kita semua. Ketika saya membaca ayat ini seolah saya baru membacanya. Ada makna yang begitu menentramkan ketika saya mengulang-ngulang membacanya sekaligus menampar saya berulang-ulang.

Dan bila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami terima dari (tradisi) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu pun, dan tidak(belum tentu) mendapat petunjuk?”( QS. Al Baqarah : 170).

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah marah besar(murka) kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya (QS. Yunus : 100)

 

Artikel terkait: