Penjara-Penjara Fikiran

Posted on August 23, 2012

1


ImageAda sebagian kawan yang mengatakan,”Beragama itu adalah cukup mengikuti kedua petunjuk(Al-Quran dan Hadits ) itu,ga usah menggunakan akal apatah lagi mengakal-akali dalil.” Lalu saya menjawab, “Kalau ga menggunakan akal, lalu apa yang kita gunakan untuk memahamii keduanya? Jika kita mengeluarkan otak kita lalu kita di suruh untuk memahami Al-Quran dan Hadits, apakah kita bisa memahaminya? Lalu kawan saya itu berkata lagi,” Bukan Al-Quran dan Hadits yang ikut dengan akalmu, tapi akalmu yang harus mengikuti keduanya.” Lalu saya menjawab,” Al-Quran dan Hadits adalah sebuah teks yang tidak bisa berbicara. Dia menunggu akal untuk menjadikan keduanya bisa berbicara. Teks itu tetap akan menjadi teks hingga akalmu memberinya makna. Dan setiap kali akal memberinya makna maka kamu akan mendapati bahwa orang lain akan memberinya makna yang berbeda dengan apa yang telah dimaknai oleh akalmu.”

Itu adalah sekelumit diskusi kami dengan beberapa kawan yang saya cintai(terimakasih atas diskusinya yang romantis, semoga kita tidak pernah berhenti untuk menggapai kebenaran)i. Diskusinya baik(kami berlindung dari Allah atas hawa nafsu kami saat berkata-kata)meskipun terkadang melelahkan. Lagi-lagi tentang kebenaran, karena yang kita cari memang adalah kebenaran. Yang kita perebutkan selama sekian ratus abad adalah tentang letak kebenaran itu dimana. Kita orang islam menyandarkan kebenaran itu pada dua hal yang telah menjadi aksioma: Rujuk kepada AL-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw. Namun tidak semudah antara perkataan dan aplikasinya. Karena kedua hal itu akan ditafsirkan oleh berbagai macam rasa dan rasio di antara sekian juta ummat islam di penjuru dunia. Kita akan mendapati setiap jengkal dari pemikiran mereka ada perbedaan. Dan setiap langkah yang kita ayungkan kita mendapati adanya perdebatan yang sengit di antara pemilik klaim-klaim kebenaran. Karena setiap individu adalah unik, punya rasa dan rasio yang berbeda.

Kita selalu memiliki rasa dan rasio yang berbeda dalam memaknai teks karena kita selalu berada dalam ‘penjara-penjara’ berikut ini:

  1. Kepada siapa kita berguru. Secara psikologi guru adalah orang yang kita anggap sebagai figur yang memiliki kelebihan dari kita. Jika kita sudah menganggapnya demikian, maka hampir semua informasi yang disampaikan oleh guru akan sangat sulit kita kritisi. Secara teori memanglah demikian. Saat kita menganggap seseorang sebagai figur yang memiliki kompetensi di bidangnya maka gelombang otak kita akan menurun. Saat gelombang otak menurun maka fikiran bawah sadar kitalah yang berfungsi lebih banyak. Saat fikiran bawah sadar kita yang berfungsi, maka fikiran kritis kita akan tertutup perlahan-lahan, jadilah kita sulit mengkritisi pendapatnya. Jika ini terjadi maka semua yang disampaikan oleh guru kita anggap sebagai kebenaran/kita mempercayainya karena ia langusng masuk dan tersimpan di alam bawah sadar kita.
  2. Di lingkungan mana kita berada. Orang yang hidup di lingkungan yang memiliki kepercayaan dengan hal tertentu cendrung akan memiliki kepercayaan yang sama dengan lingkungannya. Jika di lingkungan kita mempercayai tentang adanya hal gaib yang membuat kita sakit selain Allah, maka anak yang dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan demikanpun akan mempercayai hal yang sama. Sampai ia tumbuh dewasapun akan sulit melepaskan kepercayaan itu karena informasi itu sudah sangat melekat di bawah sadarnya. Rumusnya adalah: informasi yang didapatkan secara berulang-ulang itu lambat laun akan menjadi sebuah kepercayaan. Contoh lainnya adalah kucing yang tertabrak kendaraan bermotor. Saat seseorang menabrak kucing, maka anda akan melihat ia turun dari motornya lalu membuka bajunya dan membukus kucing itu. Diapun melakukannya dengan sangat takzim, semacam ritual orang yang ingin menguburkan mayat orang terhormat. Apa yang ada difikiran orang tersebut? yah, yang ada adalah kepercayaan bahwa menabrak kucing akan membuat kita celaka. Kepercayaan bahwa untuk menghilangkan sial saat selesai menabrak kucing adalah dengan cara membungkusnya dengan pakaian yang melekat di badannya. Mengapa itu bisa terjadi? Karena dia hidup di lingkungan yang memiliki kepercayaan semacam itu, dan informasi tentang itu didapatkannya secara berulang-ulang. Yang menjadi lucu adalah di saat mereka menabrak orang, dia lebih memilih untuk kabur daripada melakukan seperti yang ia lakukan terhadap kucing. Hmm, kucing lebih terhormat daripada manusia ya..hehe
  3. Buku/kitab apa yang dibaca. Orang bilang, buku adalah jendela dunia. Saya sangaat teringat dengan perkataan Buya Hamka(tidak persis sama): Saat saya membaca seratus buku, maka saya menyalahkan orang yang berbeda pandangan denganku. Tapi saat saya sudah membaca seratus buku, maka saya melihat bahwa mereka juga memiliki argumen yang bagus.

Yah, begitulah. Buku akan mempengaruhi cara berfikir kita dan cara pandang kita terhadap sebuah objek. Biasanya memang orang yang sedikit membaca buku itulah yang paling ngotot tentang pendapatnya. Berbagai corak dan warna buku sekarang sudah beredar bebas di pasaran. Orang akan bebas memilih dan mengambil buku saja yang dia anggap bagus. Orang yang senang membaca buku Tasawuf, maka dia akan cenderung berfikir ala sufi. Yang senang baca buku Fiqh, maka dia akan cenderung berfikir ala hakim. Orang yang gandrung dengan buku tafsir akan cenderung berfikir ala mufassir. Orang yang membaca buku Muhammadiyah akan cenderung berfikir ala Muhammadiyah dst…

Bagaimana jika seorang membaca semua jenis buku? Yang model seperti ini, kalau tidak menjadi orang yang bijaksanan, maka dia akan menjadi orang yang bingung. hehe.

Yah begitulah saudaraku  tentang hal-hal yang mempengaruhi cara berfikir kita terhadap sesuatu. Jadi jika muncul perbedaan di antara kita, maka kita akan melihat bahwa perbedaan itu muncul karena kita memiliki guru yang berbeda, memiliki lingkungan yang berbeda, dan memiliki rujukan kitab yang berbeda pula. Semoga kelak kita bisa saling mengerti satu sama lain terhadap perbedaan-perbedaan yang muncul di antara kita. Amiin…

Notes ini bukan yang terakhir, notes selanjutnya akan membahas tentang bagaimana cara kita keluar dari “penjara-penjara”  yang telah disebutkan di atas. Insyaallah.

Artikel terkait: