Cara Mendeteksi Kebohongan Lewat Gerakan Mata

Posted on August 7, 2012

16


Sesuai dengan janji saya pada postingan sebelumnya, bahwa pada postingan selanjutnya saya akan menyajikan sebuah trik untuk mendeteksi kebohongan seseorang secara lebih detail. Berikut ini adalah apa yang saya sadur dari buku Debdy Corbuzier(dengan perubahan seperlunya) yang menurutku sangat bermanfaat untuk melengkapi cara berkomunikasi anda dengan orang lain agar tidakย  mudah tertipu tertipu. Ilmu ini oleh Deddy sendiri menyebutnya sebagai Body Pereption. Jika pada postingan sebelumnya kita masih bermain-main pada wilaya fikiran dan bagaimana memanipulasinya, sekarang kita akan bermain pada wilayah yang lebih mudah kita deteksi secara visual. Chek it out!

….

Banyak orang mengatakan bahwa mata tidak dapat berbohong. Benarkah pernyataan ini? Menurut saya, itu sangat benar. Dan, bahkan ada cara untuk mengetahui kapan seseorang jujur atau berbohong hanya lewat arah pandangan matanya saja. Namun, sebelumnya saya akan membahas sedikit tentang persepsi manusia yang akan sangat berkaitan dengan hal tersebut.

Pada dasarnya daya ingat manusia dibagi menjadi tiga sudut pandang utama, yaitu:

1. Penglihatan/visual Daya ingat jenis ini secara khusus mengingat atau merekam hal-hal yang sifatnya mengarah pada daya tarik mata saja, seperti warna, keadaan, tempat, suasana, dan sebagainya. Misalnya, ketika Anda mengingat bagaimana bentuk kue ulang tahun Anda pada saat Anda berusia 17 tahun. Hal ini termasuk dalam sudut pandang penglihatan.

2. Pendengaran Daya ingat jenis ini secara khusus merekam hal-hal yang pernah didengar. Misalnya, nomor telepon atau alamat yang pernah ia terima. Hal ini kita sebut sebagai sudut pandang pendengaran.

3. Peraba/Perasa Daya ingat jenis ini secara khusus merekam hal-hal yang berhubungan dengan indra peraba, seperti rasa atau perasaan. Contoh, Anda ingat betapa dinginnya dulu ketika Anda berlibur ke luar negeri saat musim salju. Atau, bagaimana rasanya ketika Anda dulu menikmati makanan yang rasanya begitu asam.

Ketiga hal tersebut direkam di dalam otak manusia pada lokasi yang berbeda-beda. Namun demikian, perlu juga diketahui bahwa alam pikiran imajinasi manusia pun terbagi menjadi tiga sudut pandang yang sama persis seperti di atas. Yang saya maksud adalah begini: Bila Anda sedang membayangkan sesuatu di dalam pikiran Anda, secara tidak langsung Anda akan memikirkan salah satu atau beberapa gabungan dari ketiga sudut pandang di atas. Misalnya, ketika Anda memikirkan bagaimana rupa mobil Anda bila dicat dengan warna kuning emas. Itu adalah sudut pandang penglihatan. Atau, bagaimana rasanya memakan es batu dengan campuran minuman beralkohol. Ini adalah sudut pandang perasa. Uniknya, gerak mata kita secara bawah sadar pun dibagi ke dalam tiga sudut pandang ingatan dan tiga sudut pandang imajinasi.

Kalau Anda tidak percaya, coba kita ikuti sedikit permainan berikut:

Saya ingin Anda sekarang mengingat bagaimana bentuk dan warna baju seragam Anda ketika masih duduk di bangku TK. Sudah? Sekarang, cobalah mengingat-ingat apa warna kotak pensil Anda sewaktu duduk di bangku SD dulu? Sudah? Kalau diperhatikan, Anda akan sadar bahwa ketika Anda sedang mengingat-ingat, 90% mata Anda akan mengarah ke kiri atas. Itu karena memang di sana lah tempat korteks sudut pandang visual ingatan Anda. Dengan demikian, secara bawah sadar Anda melihat ke arah tersebut. Mengapa demikian? Itu adalah fakta psikologis dan biologis dari cara kerja otak manusia yang mengirimkan sinyal pada mata untuk melakukan kerja terbaiknya. Namun, kita tidak akan membahas hal itu lebih jauh di sini. Seperti yang telah disebutkan, ingatan manusia mempunyai tiga sudut pandang yang berbeda. Ketiga sudut pandang tersebut, baik penglihatan, pendengaran maupun peraba/perasa memiliki korteks-korteks yang berbeda pada otak manusia. Dan, hal tersebut memengaruhi arah pandang mata pada manusia. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Penglihatan: Arah pandang mata ke kiri atas

2. Pendengaran: Arah pandang mata ke kiri tengah

3. Peraba/Perasa: Arah pandang mata ke kanan bawah.

Itu berarti, bila Anda sedang mencoba mengingat-ingat sesuatu, arah pandang mata Anda akan bergantung pada hal yang Anda pikirkan. Apakah itu lebih menyangkut visual, pendengaran, atau peraba/perasa.

Cobalah sekali lagi pada diri sendiri atau orang lain. Tanyakan hal-hal yang mengajaknya mengingat hal-hal yang bersifat penglihatan seperti contoh di atas. Contohnya, warna baju, warna kue ulang tahun, bagaimana bentuk rumahnya dulu, atau apa bentuk kotak pensil yang pernah ia gunakan sewaktu duduk di bangku SD. Maka, 90% arah matanya akan menghadap ke kiri atas. Kemudian, cobalah mengajukan pertanyaan yang membuat seseorang mengingat hal-hal yang berhubungan dengan masalah pendengaran, seperti “Masih ingatkah kamu sewaktu ibu guru di SMP dulu marah? Apa yang dikatakannya?” atau “Masih ingatkah bagaimana syair lagu favoritmu?” Bila Anda perhatikan, kini matanya akan mengarah ke kiri tengah, yakni korteks pendengaran. Dan yang terakhir, cobalah mengajukan pertanyaan yang mengajak lawan bicara Anda mengingat hal-hal yang berhubungan dengan indra peraba/perasa, seperti rasa makanan, rasa minuman, atau juga suasana di suatu tempat yang dulu pernah ia tinggali, dan sebagainya. Perhatikan,kini matanya akan mengarah ke kanan bawah.

Jangan bertanya alasannya. Yang jelas, hal ini sungguh terjadi seperti yang saya katakan. Dan, bukan hanya itu saja, hal sebaliknya juga terjadi. Bila Anda ingin mengingat hal-hal yang bersifat penglihatan, akan lebih mudah bagi Anda untuk mengarahkan mata ke korteks penglihatan, yaitu kiri atas. Dan, demikianlah selanjutnya, tergantung pada ingatan apa yang hendak Anda munculkan. Mungkin, ini lah sebabnya terkadang seseorang kesulitan mengingat suatu hal karena ia mengarahkan matanya pada korteks yang salah. Jika hal ini terjadi, otak tidak akan membantunya menemukan jawaban yang tepat. Katakanlah, seseorang ingin mengingat kembali nomor telepon seorang teman yang baru saja disebutkan. Secara tidak sadar, ia justru mengarahkan matanya ke kanan bawah. Akibatnya, nomor telepon itu sulit diingat kembali. Hal sebaliknya juga berlaku, yakni bila seseorang ingin mengingat suatu hal yang berhubungan dengan penglihatan. Maka, akan lebih mudah baginya bila ia mengarahkan mata ke kiri atas. Kelambatan dalam proses mengingat akan terjadi bila ia salah mengarahkan matanya. Oleh karena itu, gunakan arah pandang mata Anda dengan tepat untuk mendapatkan hasil yang maksimal tatkala ingin mengingat sesuatu.

Lalu, pertanyaannya adalah: Mengapa kita harus membahas hal ini? Karena, ternyata ada hal yang sangat menarik di balik semua ini. Hal itu adalah fakta di mana imajinasi juga dibagi menjadi tiga sudut pandang yang sama, namun dengan kerja otak yang berbeda! Imajinasi

1. Penglihatan Ini merupakan wilayah di mana Anda dapat membayangkan sesuatu yang berhubungan dengan penglihatan. Misalnya, membayangkan bagaimana rupa Anda bila Anda berkepala botak dan berkumis. Atau, membayangkan bagaimana rupa seekor bebek yang mempunyai empat kaki. Itu adalah imajinasi visual (berkaitan dengan korteks penglihatan kanan atas).

2. Pendengaran Ini adalah wilayah imajinasi yang berkaitan dengan media pendengaran (dengan korteks penglihatan kanan tengah). Misalnya, membayangkan suara gajah yang sedang marah atau bagaimana merdunya suara penyanyi favorit Anda.

3. Peraba/Perasa Ini adalah wilayah imajinasi yang berkaitan dengan indra peraba/perasa (dengan korteks kiri bawah). Misalnya, membayangkan bagaimana rasanya bermain hujan atau rasanya menikmati rujak yang sangat pedas, dan sebagainya.

Dengan kata lain, apabila manusia sedang memikirkan sesuatu dan ia harus berimajinasi maka matanya akan mengarah ke korteks yang berkaitan dengan jenis memori tersebut! Dengan demikian, kita dapat mengetahui kapan seseorang sedang berusaha mengingat-ingat atau kapan ia sedang berimajinasi! Dan, kita dapat membedakannya lewat arah pandangan mereka. Lalu, apa gunanya? Gunanya, kita dapat mengetahui kapan seseorang berkata jujur dan kapan seseorang berkata bohong karena pada saat berkata jujur ia akan menggunakan korteks ingatannya, bukan korteks imajinasi! Katakanlah, Anda bertanya pada seseorang tentang apa yang tadi ia kerjakan? Seharusnya ia berkata sambil mengarahkan matanya sedikit ke kiri atas atau ke kanan bawah (penglihatan/peraba); bukan ke arah yang lain. Akan tetapi, katakanlah ia mengarahkan mata ke kanan atas, itu berarti ia sedang berusaha berimajinasi atau mengarang cerita. Orang itu sedang berbohong kepada Anda!

Untuk mendapatkan contoh kasus lain, cobalah mengajukan pertanyaan “Bagaimana cita rasa makanan yang tadi Anda coba?” Bila lawan bicara Anda jujur, matanya akan mengarah ke kanan bawah (peraba), sedangkan bila ia berbohong, matanya akan mengarah ke kiri bawah. Selain itu, Anda bisa mencoba bertanya, “Apa yang tadi dikatakan rekan kerja Anda di telepon?” Apabila lawan bicara Anda jujur, matanya akan mengarah ke kiri tengah, bukan ke kanan tengah! Itu karena, ia harus mengingat dan bukan berimajinasi atau mengarang-ngarang.

Jelaslah bahwa hal ini tidaklah secara langsung dapat dikatakan merupakan ilmu pasti atau sains. Akan tetapi, secara kenyataan fenomena ini sungguh terjadi pada cara otak manusia bekerja. Dan, dengan mengetahui cara kerja otak ini, Anda akan dengan jelas dapat mengetahui karakter lawan bicara Anda. Mata tidak dapat berbohong!

Yah, setelah mengetahui sedikit ilmunya, adan bisa menguji pertemanan anda. Siapakah di antara mereka yang selalu membohongi anda?

Berilah komentar positif tentang artikel ini atau berilah tanda like jika anda benar-benar menyukainya..

 

 

Artikel terkait

 

 

 

 

 

 

Advertisements