Perumpamaan(mengendalikan fikiran)

Posted on July 22, 2012

4


Pernahkah Anda mencoba menyampaikan sesuatu kepada orang lain, namun tidak berhasil? Memang, di dalam percakapan perkataan secara langsung dan terus-terang dapat membuat segala sesuatu menjadi tidak efektif. Bahkan, kadang malah tidak berguna bagi kedua belah pihak.

Di dalam hidupnya manusia selalu menggunakan perumpamaan dalam berbicara. Bayangkan saja ketika kita masih kecil. Seberapa banyak dongeng yang dituturkan kepada kita agar kita memahami hal-hal baik yang sebenarnya dapat disampaikan secara langsung? Pernahkah Anda mendengar kisah Malin Kundang? Untuk apa kiranya cerita tersebut dibuat? Tidak lain hanya untuk mengatakan bahwa sebagai anak sebaiknya kita menurut dan tidak kurang ajar pada orangtua. Hanya itu saja intinya. Dan, itu disampaikan lewat perumpamaan yang berbelit-belit. Anehnya, anak-anak lebih menangkap pesan yang disampaikan lewat cerita, bukan?

Hal ini membuktikan bahwa manusia lebih dapat menerima hal-hal yang bersifat perumpamaan di dalam hidupnya. Dan, hal ini dapat kita gunakan sebagai senjata dalam seni berbicara. Cobalah cari sebuah perumpamaan yang tepat, lalu sampaikan melaluinya. Berikut adalah contoh kasus yang saya alami sendiri: Pernah satu ketika saya ditawari obat terlarang oleh kawan saya. Di sini saya dihadapkan pada hal yang sangat sulit. Di satu sisi saya tahu bahwa hal itu tidak baik, namun di sisi lain ia adalah kawan lama saya yang memang sudah terbiasa dengan obat-obatan. Artinya, saya sedang menghadapi orang yang jelas-jelas sulit diberi pengertian. Mungkin, saya dapat menjelaskan padanya bahwa obat-obatan semacam itu akan berakibat buruk baginya dan bahwa saya tidak akan menggunakannya. Namun, apa hasilnya? Ada kemungkinan saya akan membuang-buang waktu seharian penuh dengan orang itu tanpa hasil apapun. Ingatlah hal yang sudah kita bahas di notes sebelumnya. Informasi itu sudah usang… bukan informasi baru!  Saya mungkin saja menolak obat-obatan tersebut sambil marah. Tapi, itu pun tidak akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, saya menggunakan sebuah metode yang saya sebut “The Confusing Double Questions” atau Pertanyaan Ganda yang Membingungkan. Maka, saya berkata padanya, “Ah, saya tidak mau coba itu….” Ia pun tangkas membalas, “Coba dulu, dong! Biar tahu rasanya. Nanti pasti minta lagi, kamu kan belum pernah mencoba. Nah, mau enggak? Kalau belum pernah coba mana tahu? Semua itu kan harus dicoba dulu baru tahu!”

Saya pun menjawab, “Eh, kamu pernah enggak digigit ular?” “Belum!” katanya. “Hm, mau coba enggak? “Apa kamu gila?!” katanya lagi. Kemudian, saya kembali berkata, “Lho, kan kamu belum pernah coba? Coba dulu dong, siapa tahu enak!” Tak mau kalah, kawan saya itu menimpali, “Mana mungkin enak? Semua orang juga tahu kalau yang namanya digigit ular itu bahaya!” “Nah, berarti kamu tahu kalau digigit ular itu bahaya padahal kamu belum pernah coba, kan?

Begitu juga saya. Saya tahu kalau yang namanya narkoba itu bahaya. Begini saja, saya beli ular dulu, lalu saya bikin ularnya menggigit kamu, nanti baru saya pakai obat kamu. Oke?” la pun terdiam tanpa kata-kata! Berikut adalah contoh kasus lain yang memanfaatkan kekuatan perumpamaan. Mari kita simak bersama.

Saya mempunyai seorang teman yang baru putus dengan kekasihnya. la merasa begitu sedih. Saking sedihnya, ia menangis setiap hari dan suatu saat ia mencoba membunuh diri. Untungnya saya sempat menolongnya dan ia tidak berhasil membunuh diri. Namun, seminggu setelah itu, setiap hari ia hanya duduk diam, menangis, merenung tanpa berkata apa-apa. Orang tuanya sudah mencoba menasihati, kawan-kawannya mencoba menghiburnya, tapi tidak satu pun yang berhasil masuk ke dalam benaknya.

Akhirnya, saya menggunakan metode di atas. Saya menceritakan sebuah perumpamaan seperti ini: “Ada dua keluarga bahagia yang hidup bertetangga. Suatu saat kedua istri dari keluarga itu berjanji untuk pergi berbelanja ke pasar dengan berjalan kaki. Namun, tiba-tiba terjadi sesuatu yang tragis di luar dugaan. Bus yang ditumpangi mereka mengalami kecelakaan dan mengakibatkan meninggalnya kedua istri tersebut. Tragis sekali. Akan tetapi, itu lah kenyataan hidup.” “Apa yang terjadi kemudian? Di keluarga A, si suami tidak dapat menerima kenyataan pahit itu. Ia selalu menyalahkan diri sendiri dan mengutuki dirinya, hingga suatu saat ia pun menjadi gila. Ia bicara sendiri, berdialog tanpa juntrungan, dan berakhir di dalam sebuah rumah sakit jiwa. Akibatnya, kedua anaknya yang masih balita harus dititipkan ke sebuah panti asuhan.”

“Berbeda dengan keluarga B. Si suami mampu menerima hal itu sebagai sebuah kenyataan hidup dan terus berjuang membesarkan kedua anaknya seorang diri. Ia mau mempelajari hal-hal yang mungkin selama ini belum pernah dilakukannya. Ia dengan gigih berusaha menjadi orangtua tunggal yang terbaik bagi kedua anaknya.”

“Dua kejadian yang sama menimpa dua orang yang berbeda dan menimbulkan hasil yang berbeda. Nah, yang manakah dirimu? A atau B?” Tanya saya. Teman saya itu terdiam sesaat, lalu mengangkat wajahnya dan berkata, “Ded, mungkin kamu benar. Saya harus mengubah cara berpikir saya agar tidak berakhir lebih parah daripada yang sudah terjadi sekarang ini. Saya harus kuat dan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan yang terbaik bagi diri saya sendiri.”

Luar biasa, bukan? Sebuah cerita dengan penyampaian yang benar dapat mengubah manusia dan cara pandangnya secepat itu!

Source: Deddy Corbuzier: Mantra dengan perubahan seperlunya

Artikel terkait:

Tagged: