Ancaman Pihak Ketiga(serial mengendalikan fikiran)

Posted on July 18, 2012

3


Ancaman Pihak Ketiga

Setelah merenungkan hal di atas, barulah hal berikut ini menjadi lebih menarik bagi Anda. Pernahkah Anda mendengar cerita, membaca buku, atau bahkan menonton sebuah film tentang mafia? Nah, ini lah salah satunya. Mari kita simak bersama.

Seorang polisi tertangkap di dalam suatu perkumpulan mafia. Ia lalu diminta untuk mengakui sesuatu yang sangat penting. Di sana ada seorang tukang pukul yang badannya mungkin tiga kali lebih besar dari badan si polisi, dan mengancam dengan berkata seperti ini, “Ayo, mengaku! Kalau tidak saya pukul kamu habis-habisan!” Akankah polisi itu mengaku? Ya, memang itu tergantung filmnya, tapi biasanya tidak. Lalu, kita anggap saja si tukang pukul melanjutkan ancamannya, “Kalau tidak

mengaku, saya setrum kamu, saya potong jari tanganmu!” Dan, orang itu tetap bersikukuh tidak mau mengaku.

Si tukang pukul terus mengancam, “Ayo, mengaku atau saya ikat kamu di tempat gelap dan saya paksa kamu nonton film India selama 6 jam!” (Mungkin sekarang si polisi baru mau mengaku!) Namun, seperti kebanyakan film, biasanya si jagoan tetap diam seribu bahasa dan tegar. Tapi, bagaimana dengan ancaman ini: “Ayo mengaku atau istri dan anak kamu saya bunuh!”

Biasanya 99% orang akan mengaku. Mengapa? Hal ini sama seperti contoh kasus sebelumnya, yakni tentang rokok. Di sini kita tidak memberikan ancaman pada pihak yang bersangkutan, namun pada pihak ketiga. Bila kita kembali pada contoh rokok tadi, seperti biasa kita tidak bisa mengatakan, “Ayo, jangan merokok karena kamu akan meracuni dirimu sendiri!” Acap kali orang sekadar mengangguk-anggukkan kepala karena merasa ia lah yang berhak mengatur hidupnya, bukan orang lain. Alih-alih berkata seperti itu, coba katakan, “Apa kamu tidak kasihan pada ibu, istri, dan juga anak-anakmu? Tahukah kamu bila

kamu merokok, mereka selalu terkena asapnya. Dan, ini akan membuat mereka menjadi perokok pasif dan bisa sangat berbahaya bagi mereka? Ayo, kasihani mereka! Pikirkan masa depan mereka yang masih panjang. Demi mereka berhentinlah merokok.” Gunakan juga hal serupa di dalam hal-hal lain, seperti

kebiasaan berjudi, mabuk, dan sebagainya.