Pilihan yang Melarang: Pilihan… larangan…(seni mempengaruhi fikiran)

Posted on July 15, 2012

4


Terkadang ketika berbicara kita ingin mengubah pendapat orang atau memberi masukan pada orang lain tentang pikira kita. Dan, yang paling sering kita lakukan secara tidak sadar adalah memberi larangan pada orang tersebut, bila hal yang ia inginkan tidak sesuai dengan kemauan kita. Apakah Anda berpikir pemberian larangan akan efektif ? Ya, tentu tidak. Coba kita gunakan logika kita. Tatkala Anda memberi

larangan, itu berarti Anda melarang subjek tersebut untuk melakukan sesuatu yang diingininya. Dan bila ia dilarang, subjek itu akan kehilangan sebuah momen yang begitu diingininya. Lalu, apa yang harus ia lakukan? Di situ lah letak kesalahan kita. Kita tidak memberikan pilihan sebagai pengganti momen tersebut! Misalnya, Anda tidak suka melihat pacar Anda merokok. Maka, Anda langsung berkata padanya, “Hei, jangan merokok lagi! Saya tidak suka dan itu buruk bagi kesehatan kita!” Bagi Anda yang memang belum pernah merasakan nikmatnya rokok, memang mudah sekali mengatakan hal demikian. Tapi, tahukah apa yang dirasakan orang ketika mereka berhenti merokok? Mulut mereka akan terasa sangat pahit sekali. Sebaliknya, kita mungkin dapat menawarkan piliha kepada subjek tersebut sebagai pengganti aktivitas merokok. Misalnya dengan berkata, “Daripada kamu merusak kesehatanmu dengan merokok, bukankah lebih baik kalau kamu mengunyah permen karet saja?” Atau, “Daripada kebut-kebutan di jalan, bukankah lebih baik kamu mendaftarkan diri untuk ikut reli mobil secara teratur?”

Meski demikian, ternyata menawarkan pilihan pada subjek tidak selamanya berjalan mulus seperti yang kita harapkan. Untuk kasus ini, saya menganjurkan Anda untuk menggunakan teknik lain yang mungkin akan lebih efektif. Teknik ini adalah pemberian “Pilihan negatif bagi masa depan pihak yang dikasihi”.

Jangan sampai Anda dibingungkan oleh judulnya. Maksudnya adalah demikian: Banyak orang di dunia ini yang secara sengaja merusak diri sendiri tanpa memikirkan masa depannya. Orang tahu bahwa mabuk-mabukan tidak berguna bagi masa depannya, bahwa itu hanyalah kenikmatan sesaat. Para perokok juga begitu, apalagi orang yang menyalah gunakan obat-obatan. Namun, apakah mereka peduli? Saya pikir tidak. Kenikmatan sesaat itu secara tidak langsung menutupi pandangan orang tentang masa depannya. Dengan demikian, adalah mungkin bagi mereka untuk mengacuhkan masa depannya. Berikut adalah sebuah contoh yang menarik:

Ada seorang pria mapan yang sudah berkeluarga dan mempunyai seorang istri yang cantik. Mereka telah dikaruniai seorang anak perempuan yang telah berusia 14 tahun bernama Mala. Pria itu adalah seorang perokok berat dan istrinya setiap hari mengeluhkan hal itu. Dokter telah mengatakan bahaya merokok bagi kesehatannya, namun sang ayah hanya diam dan terus merokok. La tampak tak peduli dengan kesehatannya. Pilihan demi pilihan dilontarkan sang istri kepada suaminya. Bahkan, sang istri sempat berkata hendak meninggalkannya bila ia tetap merokok. Rupanya kali ini ancaman itu berhasil.

Sang suami berhenti merokok di depan istrinya, namun tetap menjadi perokok superaktif di belakangnya.

 Sampai suatu saat sang istri merasa lelah memperingatkan, lalu membiarkannya. Bagaimanapun, suatu malam, ketika pria itu sedang menonton televisi dan terbatuk-batuk sambil mengisap rokok, anaknya yang masih berumur 14 tahun itu keluar dari kamarnya. Si anak menangis keras, merebut rokok

ayahnya, dan berkata, ‘Papa, tolong berhenti membunuh diri Papa sendiri! Mala ingin Papa ada di sana ketika Mala sudah besar dan hendak menikah. Mala ingin Papa ada untuk anak-anak Mala nanti. Mala tidak mau kehilangan Papa begitu cepat.” Sejak hari itu pria tersebut berhenti merokok.

 

Sebenarnya, apa yang telah terjadi di sini? Mengapa perkataan dokter tentang kesehatannya dan istri yang mengancam akan meninggalkannya tidak berhasil mengubah pria dalam contoh di atas? Namun ternyata, si Mala kecil dapat mengubahnya? Itu karena Mala memberikan pilihan yang tidak mengancam subjek dan tidak mendesak. Mala justru memberikan pilihan yang pahit kepada dirinya sendiri, yaitu

kesedihan dan rasa tidak ingin kehilangan ayahnya. Ucapan Mala membuat sang ayah memerhatikan pilihan negatif yang ia berikan kepada masa depan orang yang ia cintai, yaitu Mala sendiri. Renungkan dan coba pikirkan bagaimana hal seperti ini dapat mengubah banyak aspek di dalam kehidupan kita.