Hanya Masalah Kesempatan

Posted on July 12, 2012

0


Hanya Masalah Kesempatan

Kisah 1

“Gimana dek, nilai Matematikanya?”

“Hm… Lumayan Kak, sampai KKM.”

“Yaaa…. kok Cuma 75?”

“Ye elah si kakak, ini hanya masalah kesempatan saja. 75 kitu dah nilai KKM. Dah Lulus kak. Asal ga Remed. Ga bersyuklur neh si kakak.”

Guru privat itu hanya terdiam. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya.

Kisah 2

“Kamu dapet berapa Ulangan Matematikanya?”

Si anak hanya terdiam membisu. Teringat akan perbincangan dengan gurunya.

Pak Guru saya ga mau pulang ah!

Kenapa?

Sebab saya taku dimarahi oleh bunda. Bunda kan galak kalo aku ga dapet nilai sepuluh.

Lho kok gitu? Kan kamu dapet nilai bahasa Indonesia yang sempurna. 9,5 itu nilai yang sempurna. Kamu berbakat malah jika kamu menjadi seorang penulis.

“Kok diem?”

“Hm… da.. dap… dapat 65 Bunda.”

“Apa??? Kamu mau jadi apa kalo kamu besar nanti. Inget Matematika itu sangat berpengaruh saat kamu masuk kulkiah nanti. Kamu ngerti enggak?”

Si anak merasa tak enak untuk bercerita. Bahwa ia mendapat nilai Bahasa Indonesia yang memuaskan. Sangat memuaskan malah.

Beribu hari setelah itu, seseorang dengan gagapnya naik ke panggung utuk menerima penghargaan sebagai penulis terproduktif dalam setahun.

“Terimakasih pada Guru saya, saya memang berbakat di bahasa. Dan untuk Bunda, sekarang saya sukses tanpa matematika….”

Kisah 3

Siang itu amat terik. Angin padang pasir meniupkan debu-debu yang memerihkan mata.

“Kita sudah menang kan?”

“Sepertinya… kita belum mendapatkan intruksi untuk turun dari bukit ini.”

“Apakah kitan akan tetap disini saja?”

“Ya mau bagaimana lagi…”

Angin berhembus agak kecang. Suasana perang yang berkecamuk sangatlah melelahkan. Dahaga sudah semenjak tadi menggigit kerongkongan.

Ada yang lebih menarik dari semua hal ini. Berita kemenangan sudah terdengar dari bukit Uhud menggema seantero alam.

Para pejuang di bawah bukit memekikkan takbir. Menggemakan keagungan sebuah kemenangan. Pasukan musuk tertolah mundur.

“Kita mau disini saja? Kita sudah menang.”

“Tapi belum ada intruksi untuk turun akhi?”

“Hey kau ini bagaimana? Kita sudah menang. Ghonimah banyak disana? Kau kan punya tunggakan hutang. Apakah tidak mau terbayar semua hutang itu?”

“Tapi…”

“Ah… aku duluan saja.”

Segerombolan pemanah berlari menuju ketengah tumpukan harta rampasan perang musuh. Beberapa orang masih ragu.

“serbuuu…”

Suara datang dari balik bukit. Musuh ternyata belum menyerah. Mereka menyerang tak terduga….

Pernah merasakan kalah dari sebuah perlombaan? Merasa galau saat kalah? Sedih? Lantas berkata “padahal aku lebih baik dari mereka.”

(Hm… jadi inget surat Al-Fajr ayat 15 dan 16 deh. Moga diri ini gak masuk kategori itu.)

Ternyata kita masih saja galau oleh hal yang tak diberikan pada kita oleh Allah. Kita masih saja iri dengan kemenangan yang terjadi pada orang lain. Sangat sedih memang saat kita tidak memenangkan sebuah perlombaan. Persiapan jauh-jauh hari. Mungkin kurang tidur malam. Mungkin juga ada banyak materi yang tergadai demi sebuah persiapan. Lalu saat kita tidak menang lantas kita mengeluh pada Allah?

Hmm… pelik memang. Kita belum merasa bahwa kita memang pemenang. Kita menang pada waktunya. Kita bisa tembus media pada waktunya. Kita bisa terkenal pada waktunya. Mungkin bukan sekarang. Mungkin besok. Mungkin minggu depan. Mungkin juga 30 tahun yang akan datang. Atau mungkin sengaja Allah mau menggantikan yang sedikit itu dengan Jannahtun Na’im. Kita kadang tergiur oleh sesuatu yang sedikit dan singkat.

Ah… lagi-lagi masalah hati dan keikhlasan. Kenapa ya, kita ga menang saja, padahal banyak sekali hal yang sudah direncanakan. Gagal total. Kacau balau. Dan kita menggugat apa yang bukan milik kita. Begitu rumit jalan berpikir kita. Sederhanalah maka rasa luang ada dalam hati kita.

Tak ada yang salah dengan masa lalu. Tak ada yang salah dengan semenit tadi yang berlalu. Tak ada yang salah dengan kita jatuh sejam lalu yang menyebabkan kita harus beristirahat selama sebulan. Bukankah enak istirahat sebulan. Jarang loh ada yang mendapatkan kesempatan itu.

Pernah mungkin kita memerhatikan seekor burung yang terbang di langit. Apakah mereka selalu mengeluh, “Tuhan aneh, kita penerbang tetapi kenapa makanan kami di dalam pohon ya?” atau apakah kita pernah mendapati seekor burung yang putus asa, lalu bunuh diri dengan mendatangi predator. Bijak jika mau berkaca pada burung. Sepagi bercericit riang bersyukur atas kesempatan hidup. Lalu terbang dengan tekad yang kuat. Walau kadang pulang mendapati perut sama seperti saat bangun.

Atau pernah bertanya pada kucing yang sering kita lihat di tempat pecel lele. Mereka kurus tapi tak mungkin mereka tidak dapat makan. Dan sangat janggal jika kita mendengan seokor kucing mengadu pada kita.

“tolonglah manusia, aku belum makan 3 hari.”

Lantas setelah itu si kucing bunuh diri? Galau? Merenungi nasib buruk?

Hanya masalah kesempatan saja. Dan kita selalu membesarkan persoalan yang kecil.

Kisah 4

Aku gagal medapatkan beasiswa ke UPI. Hanya maslah satu angka dengan Esih.

“Aku ga jadi ikut ke UPI git.”

“Apa? Kok?”

“Aku ga minat?”

“Trus???”

“Ya ga dilanjutin aja?”

“Kok ga bilang sih? Kan aku bisa ikut gantiin kamu. Upi kan bla..bla..bla…”

Ugh… dulu aku selalu memperbanyak alasanagar aku tak dianggap kalah.

Empat tahun kedepan.

“Yaa Allah terimakasih engkau tak meloloskan aku saat itu ke UPI. Mungkin aku tak akan sehebat ini. Aku dapet banyak kakak di sini.”

Sejam sebelumnya…

“kita kalah perlombaan ini kak…”

“Alhamdulillaah kita kalah, ana masih bersyukur bisa banyak bersama dan bersenda gurau dengan Gits… jarang kita bisa berkumpul bareng.”

Oh Rabb…jadikan persaudaraan ini kekal sampai melihat wajahmu.

by Gits Rijal