Ibu Rajawali

Posted on July 7, 2012

0


Ibu Rajawali

ketika lahir seharusnya aku jadi burung

tapi kata ibu sayapku belum rajawali

ketika aku mengecup dunia mestinya aku jadi udara

tapi kata ayah aku belum bisa membaca cinta

saat dewasa mestinya aku jadi rajawali yang mengudara

tapi kata mereka: lupakan..kamu jadi manusia normal saja

yang berjalan bagai prajurit dikomando titah

dan sabda

ruang yang diberi rantai memasung tangan dan kaki

di bawah kata merdeka yang dipekikan

dunia!

(Agus Kindi, November 2009)

 

 

 

Seekor rajawali melintas di padang luas, turun rendah pada dahan pohon tua.

“Ibu, apakah rajawali itu punya orangtua?”

“Tentu saja…apa yang kau pikirkan?”

Diantara gelembung-gelembung sabun yang melayang, kuperhatikan cermat.”Mereka bebas dan tangguh…betapa merdeka!”

Ibu tak pernah memberikan kartu yang bisa membuatku merdeka. Kenapa?Bukankah aku sebentuk tanah yang dititipkan dalam perut untuk kemudian terbang mengendus mimpi-mimpinya paling jauh sekalipun? Anak panah yang kelak melesat sendiri…””

“Sudahlah, Bujang…masa lalu adalah sarang laba-laba tak lagi perlu pembahasan oleh kata: KENAPA?”

“Tapi hidupku terus bergerak…dan masa lalu bagai benang yang membuat langkahku terkendali…aku ingin lepas dan bebas.”

“Kau ingin seperti rajawali itu? Bebas tanpa kendali?’

“Tapi tak akan pernah bisa. Semua sudah terlambat. Aku hanya menikmati sisi lain dari keterpencilan gerak dan pikiran karena ibu dan ayah telah menciptakan ruang-ruang sempit sejak akau kecil. Dan ini sangat membuatku menderita”

“Aku tak pernah menjadi pribadi mandiri, padahal aku laki-laki. Haruskah aku menikmati semuanya ini seperti aku menikmati buah ceri?”

“Kau menuduh ibu demikian kejam, bujang…semua yang kau gugat hanya bentuk kecil bahwa ibu melindungimu dari segala kejahatan makhluk dan kejahatan dunia…”

“Tapi mestinya itu berbatas…bukan selamanya.”

“Sekarang aku terpojok. Semua menyalahkanku, padahal ibu tahu bahwa dunia ini adalah tangan dari hukum sebab akibat. Pola asuh yang salah meski dengan semangat cinta dan melindungi…”

“Jangan terus menerus menyalahkan takdir…tak bagus…”

“Aku hanya ingin bila waktu berulang, ibu dan ayah mengembalikan hidupku seperti anak-anak lain: bebas memilih teman, bebas memilih kegiatan, bebas bermain, bebas berkelana bersama kegiatan-kegiatan, melepas dan mendukungku untuk mandiri di kota lain sembari mengeja abjad-abjad mimpiku yang akan datang…bukan memaksaku untuk memilih mimpi kalian untuk aku turut memilihnya, meskipun itu hanya omong kosong. Dan kalian tak mau berkorban untuk perwujudan mimpi-mimpiku. Karena mimpi harus didukung oleh kesedian materi. Bebas memilih apa yang baik dan tidak baik menurutku, bebas kemana langkah dan pikiran melangkah jauh…”

Ibuku terdiam. Rajawali itu tiba-tiba terbang tinggi, diantara gelembung-gelembung sabun di padang luas depan kami.

“Aku seperti sebuah definisi panjang prosa…aku seperti kertas lipat yang tak bisa melipat nasib dan mimpinya sendiri…”

“Salahkan ayahmu yang overprotektif untuk satu-satunya anak lakinya…”

“Tidak, itu juga diperlakukan kepada anak-anak ibu yang lain. Tapi kalian salah menempatkan diriku degan azaz keadilan bahwa semua diperlukakn sama. Itu tidak bijak bukankah aturan untuk laki-laki dan anak perempuan berbeda? Kenapa aku di sama ratakan!”

“Ayah memperlakukanku seperti Pinokio. Dia Gupeto tua yang memahat boneka kayu dengan rasa sakit dan berharap jadi tangan panjang obesi-obsesi yang tak terwakili oleh nasib masa lalunya…dan kini akibatnya: aku sudah terlambat…aku jengah.”

“Ibu adalah peri biru yang kadang tak berdaya, melindungi namun menciptakan jaring-jaring kemanjaan.”

Dunia sudah banyak dibelenggu oleh peraturan naif dan picik. Alam akan membuatku dewasa dan berkembang. Aku bagai boneka bertali yang selalu diawasi. Tuhan akan setia menjagaku, seperti rajawali itu. Karena waktu tumbuh… pikiran, perasaan dan obsesi bukan milik orangtua sepenuhnya.

Ibu, aku ingin menjadi rajawali meski kini sayap-sayapku basah. Dan tolong, lepaskanlah aku dari belenggu dan tali itu.

Rajawali terbang jauh tinggi mengangkasa. Kapan kau mencatat namaku di sana? Gelembung-gelembung mimpiku bagai gelembung sabun yang indah, bulat, bias lalu pecah jadi cerita.

7 September 2011

by Agus Kindi

Tagged: ,
Posted in: Cerpen, cinta, Hikmah