Angsana Bukan Akasia

Posted on July 7, 2012

0


Angsana Bukan Akasia

Untuk separuh sayap yang kurindu, Diniar terkasih

Bersama separuh sayapku yang belajar terbang tanpa sayapmu, kukirimkan surat ini untuk mengecup kisah kita. Aku menulisnya kala angin berhembus menjatuhkan bunga berwarna kuning yang semerbak beraroma wangi dari pohon Angsana. Angsana yang menghiasi jalan di kota kita. Angsana yang pernah membuat kita bertengkar kecil tapi besar bagimu. Ya, sikap keras kepalamu itu yang membuat kita bertengkar. Padahal aku sudah menjelaskan dengan sempurna, sampai aku membeli buku flora dan fauna untuk meyakinkanmu, bahwa pohon yang berdiri di sepanjang jalan kota kita bukanlah pohon akasia, tapi angsana. Angsana, Niar, bukan Akasia. Tidak perlu aku jelaskan lagi, bukan? Apa sampai sekarang kau masih tidak percaya padaku? Apa kau masih ingin menyebutnya akasia. Ah, hanya karena mimpi kau menyebutnya akasia. Kau bermimpi tentang laki-laki tampan yang di kepalanya melingkar pita merah putih, yang memayungimu kala gerimis menghunus kota kita. Lalu laki-laki itu mencongak ke atas pohon dan meneriakkan ‘akasia’. Laki-laki yang membuatku cemburu meski itu hanya mimpimu. Tapi kau terus mengulangnya, mengulangnya, dan mengulangnya. Ah, sudahlah, Seharusnya aku sudah melupakan itu. Bukankah aku sudah berjanji untuk tidak mengungkitnya lagi? Maaf, Diniar. Aku hilaf.

Diniar, separuh sayapku. Musim hujan telah datang di kota kita tapi berbeda dengan musim hujan saat kau masih di kota kita. Angsana seperti tidak basah meski hujan mengintimi kota berhari-hari. Dan satu lagi, aku tak melihat pembiasan keindahan saat hujan hilang. aku tidak menemui bianglala seperti jalan berkelok. Semenjak kau memilih meninggalkan kota ini, bianglala tak lagi muncul. Aku tidak tahu kenapa? Bukankah bianglala adalah tangga bidadari turun ke bumi? Atau bidadari tidak ada lagi di kayangan biru? Atau karena tidak ada kamu? Mungkin saja. Aku selalu berandai-andai. Mungkin tujuh bidadari itu tidak turun ke kota kita, karena teman mereka tidak ada. Tidak ada kamu di sini. Diniar, apakah kau masih melihat bianglala seperti saat kau masih di sisiku?Jika iya, aku ingin kau kabarkan padanya bahwa aku kini buta, tak ada warna seindah pelangi. Kota ini sudah mati semenjak kau pergi.

Diniar separuh sayapku. Seharusnya aku bersukacita karena kota kita saat ini ramai dikunjungi orang asing . Oh ya, mungkin kau sudah tahu kota kita menjadi tempat dalam lomba olahraga se-asia tenggara. Kota kita ramai. Kau tahu, Diniar. Petasan diterbangkan di semua penjuru kota, banyak wisatawan berdayung sampan di sungai musi, tapi aku tidak tahu apa mereka suka makan pempek atau tidak. Seharusnya aku berbahagia, bukan? Tapi pada kenyataannya aku merasakan sepi menggigit hari-hariku. Kau menang, Diniar. Kau menang. Dulu kita pernah berdebat tentang filosopi jatuh cinta. Kau sangat percaya dengan kalimat ini, “saat jatuh cinta dunia terasa milik berdua”. Waktu itu aku mengotori rambutmu dengan bunga angsana. Aku katakan padamu itu kata-kata gombal. Dunia juga milik orang lain, bukan milik kita. Ternyata, ternyata, ternyata kau benar, Diniar. Kota ini memang sudah sangat ramai bahkan macet selalu hinggap saat pagi dan senja. Tapi aku tetap merasakan sepi, sepi tanpamu. Dunia kini bagaikan milikku sendiri.

Diniar, kau tahu tidak. Keajaiban dunia sudah bertambah satu lagi. Kau kenal dengan Modo dan Modi? Mereka sepasang kekasih yang sedang ramai diberitakan. Hahaha. Aku bercanda. Keajaiban dunia ternyata ada di negara kita yang kini juga sedang ramai di kota kita. Di sepanjang jalan ada Modo dan Modi, sepertinya sudah mengalahkan angsana. Hei, jangan pikir itu manusia. Modo adalah komodo jantan yang mengenakan kostum tradisional berwarna biru dengan selempang sarung batik. Sementara, Modi adalah komodo betina yang mengenakan kebaya merah juga dengan selendang dan kain batik.Mereka menjadi maskot dalam pesta olahraga . Mungkin karena komodo adalah kadal raksasa di dunia yang hanya dapat ditemukan di negeri kita. Mungkin. Yang pasti saat melihat mereka aku ingat kamu. Aku berhayal kau adalah modi dan aku modo. Ah, sudahlah. Lupakan.

Diniar. Di kota kita juga ada kendaraan baru. Bus yang ber-ac namanya Transmusi. Saat ini sangat digemari. Kulihat, banyak yang berdiri tapi kata mereka lebih menyenangkan daripada bis kota yang panas. Ongkosnya juga murah cuma tiga ribu, meski menurut kabar yang kudengar setelah pesta olahraga selesai akan naik menjadi empat ribu. Ah, apa peduliku. Bukankah kau tahu aku lebih suka jalan kaki sembari menendang kerikil yang menghadang , lalu jika lelah aku berlindung di bawah pohon angsana.

Diniar. Sepertinya suratku kali ini banyak bercerita tentang perubahan di kota kita. Aku sengaja. Diniar. Aku memang sedang mengenangmu tapi aku tidak ingin larut pada kesedihan. Baiklah Diniar ada cerita yang sekaligus pertanyaan untukmu. Kemarin sewaktu aku memotret senja di kota kita. Seperti biasa aku duduk di bawah pohon angsana. Tiba-tiba seorang pemuda datang. Ah, Diniar, aku seperti sedang masuk ke dalam mimpi yang dulu pernah kau ceritakan. Pemuda itu mengikat kepalanya dengan pita merah putih. Awalnya aku pikir wajar, mungkin pemuda itu ingin menonton lomba marathon atau menonton apalah. Ini kan sedang berlangsung sea games. Tapi Diniar, dugaanku salah. Pemuda itu menunjuk ke pucuk angsana lalu berteriak-teriak, berteriak berkali-kali,’akasia, akasia, akasia’. Aku langsung ingat cerita mimpimu, Diniar. Aku ingin bertanya pada pemuda itu tapi tiba-tiba saja angin begitu kencang, bunga-bunga angsana berguguran, pemuda itu tersenyum, memungut bunga yang jatuh dengan dua tangannya. Tak sampai di situ, setelah dua tangannya dipenuhi bunga kuning angsana, pemuda itu berlari. Aku mengejarnya. Mengejarnya. Pemuda itu berlari menyebrangi jalan yang dipenuhi berbagai macam kendaraan. Aku pun tidak peduli lagi pada kendaraan yang membunyikan klakson dengan sangat keras. Aku hanya ingin tahu siapa pemuda itu.

Tiba di jembatan ampera pemuda itu berhenti lalu menaburkan sedikit bunga angsana ke sungai musi. Setelah itu pemuda itu berlari kembali, aku terus mengejarnya. Hingga mentari akan tenggelam. Pemuda itu berhenti di sebuah tempat yang teramat sepi. Tempat yang banyak dihuni airmata perpisahan, termasuk perpisahan kita. Aku heran. Aku mengusap mataku. Berharap aku salah. Tapi nyatanya, pemuda itu menaburkan bunga di atas tanah, lalu menangis tersedu-sedu. Ah, pemuda itu mencium nisan. Diniar, itu nisanmu. Aku menghampiri pemuda itu. Tapi pemuda itu mendorong tubuhku hingga jatuh. Pemuda itu kembali berlari. Aku tak mampu mengejarnya lagi. Pemuda itu bukan seperti manusia lagi.

Diniar, pertanyaanku cuma satu. Apa kamu pernah menghianatiku?

Kututup surat ini dengan keraguan. Apakah benar pohon itu pohon akasia bukan pohon angsana. Aku cari di internet. Dan ah, itu pohon angsana bukan akasia.

Diniar. Aku tidak ingin ragu pada cintamu. Aku percaya ceritamu itu benar-benar mimpi dan aku berharap pemuda dan akasia itu juga mimpiku. Semoga. Semoga kau tidak gelisah di alam sana.

Palembang, 17-11-11

by Oksa Alam Putra

terimakasih yang sudah menginspirasi, palembang, dan sekitarnya🙂

Posted in: Cerpen