Penetapan Dimulainya Ramadhan. Hisab atau Rukyat?

Posted on July 6, 2012

0


Penetapan Dimulainya Ramadhan. Hilal atau Rukyat?

Masuknya bulan Ramadhan dapat ditetapkan verdasarkan rukyat(penyaksian)hilal sedikitnya satu atau dua orang, yang baligh, berakal dan adil(yakni yang dapat dipercaya)atau-jika hilal tidak terlihat- dengan menyempurnakan bulan sya’ban menjadi 30 hari.

Sabda nabi Saw,”berpuasalah kamu apabila telah melihatnya(yakni hilal awal Ramadhan) dan berbukalah kamu apabila melihatnya(yakni hilal awal syawal). Dan apabila waktu itu langit mendung/berawan(sehingga menghalangi pandangan mata untuk melihat hilal), maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi tigapuluh hari”(HR Bukhari dan Muslim)

Beliau juga pernah bersabda(sebagaimana yang dirawikan oleh Abdullah bin Umar,” Apabila kamu melihatnya(yakni hilal Ramadhan, maka berpuasalah, dan apabilah kamu melihattnya(hilal awal Syawwal)Maka berbukalah. Dan apabila langit tertutup awan(mendung)maka perkirakanlah.”(HR Bukhari)

Berdasarkan hadits Terakhir ini, sebagian Ulama berpendapat bahwa yand dimaksud dengan kata beliau: Perkirakanlah(uqudrulahu, dalam bahasa arabnya) ialah: Gunakanlah hisab(perhitungan menurut ilmu falak) untuk menetapkan kapan puasa dimulai dan kapan pula mengakhirinya.

Bahkan tidak sedikit ulama kontemporer(di antaranya, salah seorang pakar hadits masa kini: Al-Allamah Ahmad Syakir rahimahullahu ta’ala) yang berpendapat bahwa penyaksia (rukyat) dengan mata kepala, memang menjadi satu-satunya penentu di masa lalu, ketika mayoritas ummat masih dalam keadaan ummy(tidak pandai menulis, membaca dan menghitung). Seperti dalam sabda Nabi Saw yang dirawikan oleh Bukhari dari Ibnu Umar:

Kami adalah bangsa yang ummy, tidak pandai menulis ataupun menghitung. BUlan adalah begini’ dan begini’..(beliau mengisyaratkan dengan tangannya, bahwa jumlah hari dalam satu bulan adakalanya 29 dan adakalanya 30 hari).

Akan tetapi setelah ummat islam terbebea dari ke ummiyyan dan tidak sedikit di antara mereka yang menguasai ilmu moderen, di antaranya astronomi, fisika dan sebagainya, di samping telah ditemukannya berbagai peralatan canggih, yang memungkinkan mereka bersama bangsa-bangsa lain mampu menghitung perjalanan matahari, bulan dan bintang-bintang dengan kecermatan yang luar biasa, sehingga kemungkinan kesalahannya adalah berbanding seribu perdetik; maka tidak ada halangan  lagi mereka menggunakan hisab berkaitan dengan awal bulan Ramadhan, Syawal dan bulan-bulan lainnya.

Bahkan kini sudah saatnya mereka meninggalkan cara-cara lama yang hanya mengandalkan rukyat dengan mata kepala, yang seringkali tidak dapat dipertanggung jawabkan hasilnya. (terutama untuk di negara seperti indonesia yang langitnya kerap tertutup oleh awan-pen)

Sebagai gantinya, penetapan hilal awala bulan sudah selayaknya mengandalkan perhitungan(hisab saja), sebagai cara yang lebih pasti dan mendatangkan keyakinan. Lebih lagi, cara itu bisa ditetapkan jauh-jauh hari untuk menghindari ummat dari perselisihan sengit yang sering timbul di sekitar penentuan hari pertama Ramadhan atau syawal, serta memberikan kesempatan kepada masing-masing negeri berpenduduk Muslim untuk mempersiapkan segal yang diperlukan dalam administrasi kenegaraan sehingga tidak lagi timbul keraguan dan kebimbangan.

Dr. Yusuf Qaradhawi yang menukil dan membahas beberapa pendapat Al-Allamah Ahmad Syakir serta beberapa pakar lainnya pada akhirnya mentarjihkan penggunaan hasil hisab sebagai satu-satunya cara penentuan di masa sekarang ini, sambil menyatakan bahwa pendapat yang lebih bisa diterima adalah yang mempersyaratkan adanya hilal di atas ufuk, beberapa saat yang cukup melihatnya dengan mata telanjang. Yaitu sekitar limabela atau duapuluh menit, sebagaimana disebutkan oleh para ahli hisab. Wallahu a’lam bissawab…

Source: Fiqh praktis oleh Muhammad Bagir Al-Habsyi dan berbagai sumber lainnya

Posted in: Fiqh, Hikmah, Islam