“Ikhwanul Muslimin Inspirasi Gerakan Tarbiyah”

Posted on July 3, 2012

2


Syaikhut Tarbiyah, KH Rahmat Abdullah:

Usianya belumlah setengah abad. Tapi pembawaannya yang tenang kebapakan serta rambut dan janggutnya yang sebagian telah memutih, mengesankan pria kelahiran Jakarta, 3 Juli 1953 ini lebih tua dari usia yang sebenarnya. Sehingga cukup pantas bila ia kerap dituakan dan disegani oleh lingkungan pergaulannya.
Dalam publikasi acara Seminar Nasional “Tarbiyah di Era Baru” di Masjid UI, Kampus UI Depok, awal bulan lalu, ustadz keturunan Betawi ini ditetapkan sebagai pembicara utama (keynote speaker) serta disebut sebagai Syaikhut Tarbiyah; sebuah jabatan yang belum populer di telinga masyarakat, termasuk di kalangan aktivis da’wah dan harakah (pergerakan) selama ini.

Ketika dikonfirmasi Sahid tentang jabatan tersebut, sambil tersenyum dan merendah Rahmat membantahnya. Menurut Ketua Yayasan Iqro’ Bekasi ini sebutan tersebut hanyalah gurauan panitia yang kebetulan telah akrab dengannya. Rahmat sempat mengajukan keberatan kepada panitia, tapi ternyata publikasinya sudah terlanjur disebar. Akhirnya ayah dari tujuh putra-putri ini cuma bisa balik bergurau, “Adik-adik mau nyindir bahwa saya sudah kakek-kakek ya? Syaikh itu kan dalam bahasa Arab artinya kakek.”

Boleh jadi jabatan Syaikh Tarbiyah itu, seperti diakuinya, cuma gurauan atau sindiran panitia. Tapi banyak orang percaya sejatinya suami Sumarni HM Umar ini memang orang yang dituakan dalam gerakan yang bernama Tarbiyah. Apalagi mengingat di kepengurusan Partai Keadilan (PK) Rahmat memegang amanat sebagai Ketua Majelis Syuro dan Ketua Majelis Pertimbangan Partai. Seperti dimaklumi, PK didirikan dan disokong oleh para kader Tarbiyah.

Dalam seminar nasional yang dihadiri ribuan aktivis dan simpatisan Tarbiyah, Rahmat mengawali acara dengan orasi bertajuk “Kilas Balik 20 Tahun Tarbiyah Islamiyah di Indonesia dan Langkah Pasti Menyongsong Masa Depan.” Dalam kesempatan tersebut dicanangkan tahun 1422 H ini sebagai tahun kebangkitan Tarbiyah Islamiyah di Indonesia.

Dalam kancah pergerakan Islam di Indonesia, nama gerakan Tarbiyah belum populer di kalangan masyarakat awam. Kata tarbiyah lebih biasa dilekatkan orang pada Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), sebuah ormas Islam yang berbasis di Sumatera Barat dan pernah menjadi partai Islam.

Namun bagi orang yang akrab dengan gerakan da’wah kampus, tidaklah merasa asing dengan sebutan itu. Di era ’80-an dan ’90-an gerakan ini kerap juga disebut Ikhwan, karena akrabnya aktivis Tarbiyah dengan manhaj gerakan Ikhwanul Muslimin, gerakan Islam di Mesir yang pengaruhnya telah mendunia.

Dari orasi yang disampaikan Rahmat, memori orang terpanggil lagi pada kenangan 20 tahun ke belakang ketika aktivis Tarbiyah merintis gerakan ini di kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Salah satu tandanya adalah merebaknya pengajian usrah dan halaqah di kampus-kampus. Tonggak lainnya, mulai maraknya pemakaian jilbab oleh para siswi dan mahasiswi yang mendapat tentangan keras dari berbagai kalangan yang alergi terhadap syariat Islam. “Gedung sekolah dan semua peralatan sekolah, termasuk Departemen Pendidikan yang dibangun 90% dananya dari ummat Islam, harus mengusir putri-putri Islam karena mereka menggunakan busana demi melaksanakan perintah agama mereka,” ungkap murid kesayangan almarhum KH Abdullah Syafi’i ini dalam orasinya.

Begitu banyak pahit getir yang dirasakan, sehingga ada sebagian kader yang terputus dari jalan perjuangan. Tapi banyak pula yang bersabar, terus bermujahadah menempa diri dan menabung amal, bertahan hingga kini, menyemai insan dakwah ke seluruh pelosok negeri. Hasilnya antara lain, jilbab jadi pakaian jamak bagi wanita di negeri ini. Dari yang benar-benar penuh kesadaran berislam hingga yang masih ikut-ikutan lantaran telah jadi mode.

Tentu saja itu semua bukan cuma hasil kerja Rahmat Abdullah dan kawan-kawan seperjuangannya di Tarbiyah. Tapi harus diakui saham harakah Tarbiyah bersama harakah-harakah lain telah memberi itsar (bekas) perjalanan da’wah yang mengesankan di zamrud katulistiwa tercinta ini.

Bagaimana sejarah bermulanya harakah ini? Apakah benar terkait dengan Ikhwanul Muslimin yang didirikan Hasan Al-Banna di Mesir? Kepada Saiful Hamiwanto, Pambudi Utomo dan Deka Kurniawan dari Sahid, yang bertandang ke rumahnya yang sederhana nan asri di Kompleks Islamic Village Iqro’, Pondok Gede, Bekasi, kiai yang ramah ini membeberkannya untuk Anda, para pembaca. Berikut ini kutipan dari sekitar tiga jam perbincangan dengannya. Selamat mengikuti.

Dengan menggelar seminar “Tarbiyah di Era Baru”, gerakan Tarbiyah tampaknya mulai membuka diri secara terang-terangan. Bahkan tahun ini dicanangkan sebagai ‘Aam (Tahun Kebangkitan) At-Tarbiyah. Apa latar belakangnya?

Bismillah, sangat disadari bahwa setiap fase perjuangan itu menuntut sikap-sikap sesuai dengan fase-fase tersebut. Sehingga ada doktrin dalam Tarbiyah yang disebut, likulli marhalatin mutaqallabatuhaa (setiap fase itu ada tuntunannya); kemudian li likulli marhalatin muqtadhayatuhaa, (setiap fase ada konsekuensi yang harus dilahirkannya), dan likulli marhalatin rijaaluhaa (setiap fase ada orangnya, tokohnya atau kadernya).

Kemudian, apa yang kita sampaikan ketika dakwah ini mengalami satu fase yang berbeda dengan masa lalu? Kemarin dakwah berhasil melalui masa-masa sulit, mengayuh diantara dua persoalan dan kondisi, yakni kondisi melawan arus yang tidak terlawan dengan kekuatan yang secara thobi’i (alami) susah dihadapi secara face to face, serta kondisi larut.

Memang, dalam fase itu, kita lihat banyak juga yang tidak memiliki istimroriyah (kesinambungan), kontinyunitasnya tidak jelas. Kalaupun ada yang berjalan terus, perkembangannnya menyedihkan. Ada juga yang berkembang tapi kehilangan asholah (orisinalitas). Ini adalah kasus-kasus perjalanan dakwah dalam menghadapi rezim yang represif dan tekanan budaya. Bisa jadi banyak yang larut. Seperti para pengikut Nabi Isa, setelah beberapa lama malah jadi pengikut penjajah yang nyaris menyalib Nabi Isa sendiri.

Nah, kita ingin, keberhasilan melewati masa-masa kritis dan sulit semacam itu juga bisa kita capai ketika keadaan ini berubah, karena tidak otomatis daya tahan itu ada. Makanya harus dicanangkan sesuatu agar apa-apa yang menjadi doktrin Tarbiyah di atas, bisa direalisasikan.

Bisa jadi, kader yang dulu tahan menderita lama, tiba-tiba ketika segalanya terbuka seperti sekarang ini, menjadi tidak tahan lagi. Kalau dulu kan jelas sekali perbedaannya, furqon-nya, antara haq dan batil, sehingga akhlak para kader itu selalu berlawanan dengan akhlak buruk orang-orang memusuhi mereka. Nah, setelah keadaan ini terbuka, apa ada jaminan bahwa mereka tidak akan larut?

Memang, secara doktrin sudah diantisipasi, misalnya dengan pemahaman tentang tamayyu’ (mencairnya nilai-nilai), idzabah (pelarutan), istifdzadzat (provokasi), ighra’at (rayuan-rayuan), dan mun’athofat (tikungan-tikungan). Secara teoritis kita tahu semua tentang itu. Tapi ketika kita menjalaninya, apakah kita cukup siap?

Maka pencanangan ini beranjak dari kenyataan, dimana sebuah komunitas dakwah sedang mengalami fase-fase lain yang berbeda dengan fase ketika mereka dibesarkan dulu. Pencanangan ini untuk menyiapkan sesuatu yang secara teoritis sudah mereka kenal, tetapi secara komunal, penghayatan, apresiasi perlu dihadapi secara lebih serius agar tidak menimbulkan persoalan yang rumit yang menyebabkan taurits (pewarisan) itu menjadi terputus.

Dulu dimulai satu langkah dan hasilnya adalah hari ini. Bagi yang tidak mau melihat hasil yang sama di hari nanti, ya sekarang diam dan tidur saja. Tapi kalau ingin melihat terus-menerus keadaan seperti ini, maka harus bergerak untuk masa mendatang. Ini terutama yang melatarbelakangi pencanangan ‘Aam At-Tarbiyah (Tahun Tarbiyah).

Tapi perlu dicatat bahwa pengertian tarbiyah (pendidikan) ini tidak menafikan proses tarbiyah yang terjadi di Indonesia sejak dulu. Tanpa proses tarbiyah, bagaimana mungkin walisongo dapat melahirkan pejuang-pejuang handal. Apapun namanya, apakah itu pengkaderan dengan ‘t’ kecil (tarbiyah), yang jelas itu adalah proses pendidikan. Namun Tarbiyah yang sedang kita perbincangkan dalam konteks ini adalah dengan ‘t’ besar, Tarbiyah (sebagai nama sebuah gerakan, red).

Wanti-wanti tentang pelarutan ini pernah Anda sampaikan waktu Munas PK tahun 2000. Apakah memang anda sendiri sudah melihat kecenderungan itu, sehingga perlu ada pencanangan ini?

Kalau kita baca sirah (sejarah), Rasululllah pernah berpesan diantaranya “ma al-faqru bi akhsya alaikum, bukanlah kefakiran yang aku takutkan dari kalian, tapi aku mengkhawatirkan apabila bumi di buka (dimenangkan) lalu kamu bersaing memperebutkan dunia, sehingga kamu celaka, sebagaimana celakanya orang-orang sebelum kamu.” Dulu, kesulitan itu membuat segalanya terbatas, dan kita berhasil melewatinya. Contohnya, kita tidak punya villa, tapi bisa menikmati banyak villa. Dan kawasan Puncak (Bogor, red) yang dianggap identik dengan maksiat, seperti hari ini bisa berubah sebagai tempat acara pengajian karena seringnya digunakan untuk pengkaderan oleh semua pihak, diantaranya oleh kalangan Tarbiyah.

Wanti-wanti rasul itu, dalam kaitan ini, menegaskan bahwa setiap kondisi ada pengaruhnya. Kalau dulu, setiap waktu mereka bisa bertemu, sehingga kesalahan sedikit saja bisa langsung diketahui. Tapi ketika mereka sudah ada di kawasan yang menggiurkan, secara massal tantangan akan semakin keras. Sesuatu yang menggiurkan, kalau baru cerita, masih bisa bilang tidak mau. Tapi kalau sudah sudah di depan mata, bagaimana mungkin tidak tidak tergoda.

Supaya tidak larut, mereka jangan sampai lupa kepada akarnya. Makanya, pemantapan nilai Tarbiyah dalam pencanangan ini tidak bisa kita abaikan, meskipun sekarang mereka masih rutin bertemu setiap pekan dengan muhasabah (evaluasi) dan muraqabah (pengawasan).

Selama 20 tahun berkiprah di Indonesia, masih banyak orang yang belum tahu Tarbiyah ini. Bisakah Anda ceritakan sejarahnya?

Dulu, apa yang kita kaji sebetulnya adalah apa yang menjadi keyakinan bersama umat Islam . Kita punya keinginan dan cita-cita yang sama, tidak ada perbedaan dari segi materi. Nah Tarbiyah menjadi sejarah ketika pola pendekatan pengkajiannya tersebut dibuat integral dan menjadi aplikatif.

Kalau di berbagai tempat ukhuwah masih menjadi teriakan-teriakan yang semu, di lingkungan Tarbiyah, itu diaplikasikan. Kalau penguasaan Islam selama ini masih bersifat kognitif, maka di Tarbiyah hal itu dicoba untuk diamalkan. Tema yang dikaji dalam beberapa kali pertemuan harus ditransformasikan dari dairatul qaul (perkataan, teori), kepada dairatul amal (pengamalan). Kemudian dari amal kepada kebiasaan.

Kalau Islam dulu dibatasi pada bidang-bidang dan ruang-ruang tertentu, maka di Tarbiyah hal itu diperluas sebagaimana Islam adanya yang berbicara juga tentang politik, ekonomi dan lain-lain. Dengan kata lain ada orientasi kepada Islam kaffah (total). Mereka dibangun kesadarannya untuk melihat bahwa pemahaman Islam mereka sebelum ini harus diluruskan.

Demikianlah sebuah upaya yang dilakukan Tarbiyah supaya kita bisa mengamalkan Islam dalam satu komunitas baru. Yang intens mengkaji Islam kan biasanya dari kawasan santri, lalu dengan munculnya Tarbiyah, dakwah mulai berdaya, karena mulai memasuki kawasan-kawasan yang sebelum ini dianggap sekuler, yakni kampus-kampus yang memang bukan tempat kajian agama. Di kawasan itu subur karena para mahasiswa dan sarjana akrab dengan ilmu-ulmu kauniyah yang dalam Tarbiyah memang menjadi doktrin penting.

Mereka di laboratorium mengkaji ayat-ayat kauniyah itu, dan kemudian mendapat pembenaran dari ayat qauliyah yang dikaji dalam Tarbiyah, sehingga mereka pun jadi cenderung kepada aktivitas yang militan.

Dengan proses kesejarahan itu, maka saat ini adalah era baru dimana dakwah yang selama ini sering diumbar di mimbar mendapatkan perluasan dan diversifikasinya yakni yang melanjut menjadi dakwah kader. Mereka inilah yang dalam konsep dakwah Tarbiyah disebut dengan anasirut taghyir (elemen perubah).

Dalam proses dakwah ada obyek yang hanya bisa sekedar menerima dakwah yakni qoobilud dakwah. Ada yang bisa menerima perubahan dari dakwah itu, yakni qoobilut taghyir ada yang berpotensi menjadi anasirut taghyir. Nah, anasirut taghyir ini, ada di kawasan ilmiah, yakni kampus-kampus dan sekolah-sekolah.

Kepedulian untuk menggarap kalangan yang dalam waktu singkat bisa melakukan perubahan ini memang dilakukan dengan sadar, karena pengalaman dakwah yang sudah dilakukan sebelumnya, seperti di dalam parpol/ormas, dirasa belum efektif. Pengalaman sebelum ini, dakwah di kampus itu lebih murni, sehingga proses ini akan menyejarah dengan adanya keluarga-keluarga baru yang akan mengaplikasikan Islam secara lebih utuh.

Hal ini tentu saja tidak terlepas dari adanya satu bi’ah (lingkungan). Nah, tarbiyah ini adalah bi’ah, dimana unsur-unsurnya terus dibimbing dalam berislam dan dikawal dari segala pengaruh zaman yang masuk.

Inilah yang disebut kelompok kajian yang mengandung 3 unsur utama. Pertama, yang mengandung atmosfir dzikir dan ibadah atau aspek ruhaniah spiritual. Kedua, aspek fikriyah, keilmuan. Dan yang ketiga, aspek dakwah harakiyah, yakni implementasi dari yang pertama dan kedua. Proses yang demikian pada saatnya akan sampai pada satu titik, dimana mereka siap untuk berinteraksi dengan masyarakat dengan bekal dan kekuatan yang memadai sehingga tidak mudah larut, tapi malah bisa menciptakan perubahan.

Manhaj Tarbiyah yang demikian itu terinspirasi dari mana?

Kalau kita merujuk kepada buku yang ada, seperti yang diakui oleh sebuah parpol Islam , mereka berasal dari kelompok usrah. Dan referensi dari gerakan ini memang diantaranya merujuk kepada gerakan yang berkembang di Mesir. Secara faktual, menurut Prof. Fathi Yakan, referensi ilmiah dunia Islam sekarang ini 60 persennya berasal dari gerakan Islam di Mesir ini.

Sebenarnya hampir seluruh doktrin dakwah dari gerakan Tarbiyah, diambil dari sumber-sumber yang jauh sebelum Hasan Al-Banna. Misalnya dalam kitab Muhammad bin Abdul Wahab ada materi qul haadzihi sabiilii, yang merupakan materi dasar bagi setiap pemula yang masuk Tarbiyah. Ternyata dalam kitab Syekh Abdullah Alawi Al-Hadaad, yang sangat populer di pesantren, yaitu Ad-Da’wah at-Tammah, juga dibuka dengan ayat tersebut, jadi ini sudah biasa.

Intisari ayat dalam QS 12:108 itu pertama tentang deklarasi untuk mengikuti jalan dakwah, qul haadzihi sabiilii. Kedua, jalan itu hanya menuju kepada Allah. Ketiga, jalan itu berlangsung di atas manhaj yang jelas. Keempat adanya pemimpin yang ikhlas (qiyadah mukhlisoh) di jalan itu. Kemudian kelima adanya pengikut/pendukung yang tho’at (jundiah muthi’ah) dalam jalan itu.

Mereka semua rata-rata memiliki marja’ (rujukan) yang sama dari berbagai ulama. Bagi Tarbiyah, siapa saja yang berbicara tentang Islam akan menjadi rujukannya. Tapi yang paling mayoritas sering digunakan adalah pemikiran-pemikiran Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, An-Nadwy dan Mushtafa Masyhur.

Tahun 1980-an pemikiran-pemikiran mereka memang masuk ke Indonesia, karena di tempat asalnya, Mesir, mereka dipukul oleh Nasser. Ini hikmahnya, mereka muncrat kemana-mana, termasuk ke sini. Mereka juga masuk ke berbagai elemen dan lembaga ummat di berbagai pelosok dunia. Dengan berbagai cover mereka menjalani gerakan mereka, misalnya, WAMY, IIFSO, OKI, Rabithah Alam Islami, termasuk juga lembaga yang pernah dipimpin Anwar Ibrahim. Lembaga-lembaga itu menjadi corong yang mensosialisasikan abad ke-15 H ini sebagai titik tolak keberangkatan ummat Islam.

Apakah yang Anda maksud gerakan dari Mesir itu adalah Ikhwanul Muslimin?

Gerakan inilah yang nampaknya banyak memberi inspirasi dan pengaruh kepada Tarbiyah. Prosesnya antara lain lewat pengiriman buku-buku tentang gerakan itu ke pesantren-pesantren oleh mahasiswa kita yang belajar di Timur Tengah. Tapi sayang kitab-kitab itu tidak dibuka, karena dianggap bukan kitab kuning.

Saya ingat, tahun 1972 Dr. Yusuf Qaradhawi pernah berkunjung ke Indonesia. Dan beliau menyumbangkan kitab-kitab sejenis itu. Di antara yang diberi itu adalah guru saya KH Abdullah Syafi’i. Beliau adalah seorang pembaca yang lahap. Di mobilnya selalu ada kitab.

Waktu itu saya masih kelas III Tsanawiyah. Mengikuti jejak beliau, saya sudah berkenalan dengan kitab Fii dzilalil qur’an serta kitab karangan Abu Hasan Ali An-Nadwi yang disumbangkan Yusuf Qaradhawi.

Begitulah inspirasi gerakan itu sampai ke sini. Waktu itu orang belum yakin, bagaimana halaqah yang paling banyak anggotanya cuma 12 orang bisa mengubah dunia. Orang-orang masih yakin perubahan itu hanya bisa terjadi dengan massa yang besar. Sementara kami terus melakukan pengkaderan intensif.

Begitu intensifnya hingga di masa awal itu ada seorang tokoh muda gerakan ini, yang bisa 3 kali ke Puncak setiap akhir pekan untuk mencetak kader-kader Tarbiyah ini. Biayanya dari kantong sendiri. Kadang numpang truk. Bahkan tidak aneh kalau waktu itu di antara mereka ada yang jalan kaki dari Depok ke Jakarta, itu biasa. Dan mereka pulang jarang yang di bawah jam 12 malam. Seperti itulah mereka menjadi kader di masa lalu. Meski begitu Tarbiyah juga tidak eksklusif, karena mereka juga terjun ke tengah masyarakat.

Apakah proses pengkaderan itu dilakukan juga di kampus dan sekolah-sekolah agama?

Ada, perekrutan itu dilakukan juga di sana. Tetapi memang respon yang paling cepat adalah di kampus-kampus umum itu. Mungkin karena berangkat dari kesadaran, bahwa mereka sudah minus keislamannya, sehingga mereka semangat untuk belajar Islam. Sedangkan orang-orang di kampus agama mengklaim, “Kami gudangnya Islam.” Jadi mereka sudah merasa cukup.

Kembali soal sejarah Tarbiyah tadi. Bisa anda jelaskan siapa-siapa saja tokoh yang membawa fikrah gerakan ini ke Indonesia?

Tentu saja ketika proses masuknya fikroh ini berlangsung, banyak pintu yang digunakan, proses ini seperti tayyar (arus). Sebuah tayyar kan tidak jelas mana awal dan mana akhir. Begitu banyak sehingga jika Anda sebut beberapa nama tokoh Tarbiyah, boleh jadi semuanya punya peran.

Tapi saya ingat salah seorang kyai di Jakarta, pulang dari Timur Tengah membawa kitab untuk pesantren. Saya mengkhatamkan tiga kitab risalah Hasan Al-Banna yang dibawa kyai saya itu yaitu Bainal Amsi wal Yaum (Antara Kemarin dan Hari Ini), Da’watuna (Dakwah Kami di Era Baru) dan Risalah Ta’lim.

Dalam perkembangannya Tarbiyah terjun ke dalam da’wah politik ?yakni dengan pendirian Partai Keadilan. Apa pertimbangannya?

Bukankah begitu banyak ilmu, lalu kalau bukan untuk dikaji dan diamalkan dan diaplikasikan, terus untuk apa? Apakah cukup kita membicarakan di dalam halaqah, tapi di luar kita selesai begitu saja. Kalau dilihat dari perjalanan Rasulullah, mereka mulai sembunyi selama tiga tahun, sesudah itu mengumumkan da’wahnya. Saat itu sudah eranya dakwah memasyarakat sampai hijrah dengan segala resikonya. Sesudah itu di Madinah terjadi suatu proses yang bersifat politik praktis dan kelembagaan politik.

Lagipula, kita harus membayar janji kita kepada Allah bahwa shalat, ibadah dan seluruh kehidupan kita untuk Allah. Jadi hidup itu mulai dari tidur, makan, sampai mengatur orang bermasyarakat, berarti namanya politik.

Keputusan untuk terjun ke politik didorong oleh kesadaran supaya tidak ingin berasyik-asyik saja dalam konsep da’wah, tetapi apa yang bisa kita berikan untuk ummat pada saat moment berpolitik memungkinkan. Kalau momen itu tidak diambil, ummat akan mengeluh dan kecewa. Sementara banyak orang kafir sudah mengibarkan bendera.

Orang memaklumi bahwa kader Partai Keadilan (PK) dari kalangan Tarbiyah. Sementara Doktor Yusuf Qaradhawi menulis bahwa PK adalah perpanjangan tangan dari Ikhwanul Muslimin (IM) di Indonesia. Jadi Tarbiyah sesungguhnya adalah IM di Indonesia?

Wallahu a’lam. Saya baca buku asli yang ditulis Qaradhawi itu. Di situ tertulis imtidad. Tetapi apakah betul terjemahannya sebagai perpanjangan tangan. Sebetulnya mereka adalah jamaah wahidah yang diikat oleh rabithul aqidah. Jadi di manapun mereka berada tetap dalam satu ikatan yang kokoh.

Apakah ada semacam ikatan resmi antara tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Tarbiyah di Indonesia?

Begini, kalau soal kerjasama ya sulit juga dijawab, karena tidak sama seperti komunis di Indonesia dulu yang punya hubungan jelas dengan komunis di Rusia. Yang jelas kalau di luar negeri seperti di Yordan, Sudan dan lain-lain, Ikhwanul Muslimin bergerak dengan bendera formal, tapi ada di sebagian negeri yang lain tidak menggunakan nama Ikhwanul Muslimin, namun semangatnya sama.

Mengapa tidak ada keinginan untuk menegaskan diri dengan menyatakan bahwa Tarbiyah tidak lain adalah Ikhwanul Muslimin?

Yang penting bukan terstruktur atau tidak, diakui atau tidak, tapi produk apa yang bisa dihasilkan oleh seorang muslim dengan komitmen dan semangat dakwahnya. Kita lebih mengandalkan kualitas komoditas, bukan propagandanya, na’tamid ‘ala husnil bdho’ah la ‘ala husnid di’ayah.

Seingat saya, selama bertahun-tahun tumbuh bersama gerakan ini, mereka tidak pernah diperkenalkan dengan satu tokoh. Kita selalu membiasakan untuk selalu merujuk kepada Al-Quran dan Sunnah. Kita mencegah agar jangan sampai kader-kader kita terpesona oleh figur dan oleh nama besar. Lebih baik begitu daripada mengibarkan bendera tapi tidak pernah membuktikan komitmennya.

Kita sendiri tidak berani mengklaim sebagai Ikhwanul Muslimin karena, pertama, sudah benarkah klaim itu, kalau tidak, berarti kita sudah membohongi masyarakat. Kedua, kalaupun kita punya hubungan dengan Ikhwanul Muslimin, apakah kualitas kita benar-benar sama dengan mereka. Kalau sudah sih tidak apa-apa mengklaim sebagai bagian dari jamaah itu. Tapi kalau pemikirannya jauh dari Hasan Al-Banna, dan produk akhlaknya mengecewakan, gaya bahasanya juga berbeda buat apa mengaku-ngaku. Jadi bagi kita yang penting adalah produknya dulu.

Di Mesir organisasi IM muncul secara terang-terangan. Mengapa di negeri lain tidak semua yang mau terang-terangan?

Mesir itu kan monumen, tempat lahirnya gerakan itu. Sebagai monumen besar, ia tidak boleh tersembunyi. Apapun risikonya, termasuk nyawa, eksistensi jama’ah harus tetap muncul. Kalau dia dibilang tidak ada, tidak ada di dunia ini, kalau dia dibilang ada, orang akan bilang ada.

Tentu saja di Indonesia tidak bisa saya katakan bahwa Tarbiyah adalah perpanjangan tangan yang terstruktur dari IM, tapi lalu disembunyikan. Benar atau tidak, itu soal lain. Paling tidak dari sisi kampanye nama, memalukan kalau orang Indonesia cuma mengambil nama lalu kualitasnya tidak sampai.

Apakah pencanangan gerakan Tarbiyah di era terbuka ini kemudian akan mengarah kepada pembentukan ormas?

Nampaknya tidak. Jadi pencanangan ini adalah da’wah ke berbagai lini. Ini lebih kepada keinginan untuk menanamkan semangat menyebar.

Dalam selebaran acara seminar “Tarbiyah di Era Baru” Anda disebut sebagai Syaikh Tarbiyah. Apakah memang dalam struktur Jamaah Tarbiyah imamnya Anda. Dan bagaimana sampai Anda didudukkan sebagai syaikh?

Antara sungguhan dan guyonan, susah membedakannya. Biasanya orang yang sudah dekat kan begitu. Sebenarnya sebutan ini hanya buatan panitia saja. Saya tanya mereka, “Kenapa dibuat seperti ini?”

Mereka bilang, “Publikasinya sudah disebar kok.” Maka saya balas gurau, “Adik-adik mau nyindir saya ya, bahwa saya sudah kakek-kakek. Syaikh itu kan artinya kakek. Jadi era saya sudah hilang, sekarang era kalian semua?”

Pertimbangan mereka mungkin saya ini kan nggak sama dengan yang lain. Yang lain kan ada yang bergelar doktor. Mereka mungkin mengira-kira untuk mengimbangi, sehingga akhirnya dibuat julukan itu. Humor itu biasa terjadi, sering si Fulan ditulis bergelar Ph.D, maksudnya bukan doktor, tapi singkatan dari Pakar Halaqah dan Daurah, hahaha…

Lantas ada yang menggelari saya dengan Kyai Haji, tapi itu orang-orang saja yang kasih. Saya sendiri risih dipanggil Kyai Haji. Kalau diangkat dengan sebutan mulia saya gemetar.

Apakah penyebutan syaikh itu terkait dengan posisi struktural anda sebagai ketua MPP di PK?

Insya Allah tidak.

Gerakan Tarbiyah selama ini banyak berbasis di kampus yang notabene masyarakat menengah dan relatif elit. Belakangan apakah juga memperhatikan kalangan bawah?

Relatif, di beberapa daerah pembinaan kalangan bawah tampaknya cukup memuaskan, walaupun untuk berpacu perlu waktu, kenapa misalnya di beberapa daerah transmigrasi ada keberhasilan yang mereka menjadi pemimpin riil.

Sering muncul kritik bahwa gerakan Tarbiyah ini cenderung eksklusif. Apakah Anda rasakah pula kecenderungan itu?

Betul, ada kalanya kopral dengan kopral berkelahi, tetapi mayor dan kolonel yang jadi atasannya biasa-biasa saja. Para jenderalnya pun saling ngobrol saja.

Kalau ada yang demikian yang saya lihat, saya mengingatkan kader-kader kita agar tidak boleh begitu. Karena sesungguhnya mereka bisa menjadi orang yang sangat dihargai masyarakat jika menggunakan cara-cara yang lebih santun.

Jadi kesan eksklusif itu bukan karena ajaran ataupun doktrin, tapi dari sisa yang belum diselesaikan dari kajian materi yang saat itu harusnya mereka cari sendiri.

Makanya mereka disuruh mengaji ke mana-mana untuk menambah wawasan. Sehingga kalau ada kajian umum mereka datang ramai-ramai untuk memperkaya dari apa yang telah mereka dapatkan dalam kelompok-kelompok kecil itu.

Sesuai dengan apa yang ia nasehatkan, Rahmat Abdullah sendiri adalah sosok pejuang da’wah yang sangat aktif memperkaya wawasan keilmuannya. Pendidikan formalnya hanya sampai madrasah aliyah plus setahun kuliah di LIPIA Jakarta. Tapi karena kegigihannya mencari ilmu dari beberapa halaqah kiai dan kelahapannya membaca kitab, banyak orang mengakui kapasitas keilmuannya tak kalah dari rekan-rekannya yang bergelar doktor. Sejak tahun 1985 ia sudah sering berkunjung ke luar negeri dan keliling Indonesia, memenuhi undangan seminar, mudzakarah du’at, pelatihan kader, tabligh, dan sebagainya. Meski begitu ia tetap tawadhu dan menolak disebut otodidak. “Allah-didak. Allah yang mendidik dan mengajarkan kita,” katanya meluruskan.

http://www.hidayatullah.com

Posted in: Hadharah, Hikmah, Islam