Keterhijaban dan Baik Sangka

Posted on June 29, 2012

0


Seorang kawan bertanya dengan nada mengeluh.

“Dimana keadilan Allah?” ujarnya. “Telah lama aku memohon dan meminta pada-Nya. Kujauhi segala larangannya. Kutegakkan yang wajib. Kutekuni sunnah. Kutebarkan sadaqah. Aku berdiri di waktu malam. Aku bersujud di kala dhuha. Aku baca Kalam-Nya. Aku upayakan kemampuan mengikut jejak Rasul-Nya. Tapi hingga kini Allah belum mewujudkan harapanku itu. Sama sekali.”

Saya menatapnya iba. Lalu tertunduk sedih.

“Padahal,” lanjutnya sambil kini berkaca-kaca, “Ada teman lain yang aku tahu ibadahnya berantakan. wajibnya tak utuh. Sunnahnya tak tersentuh. Akhlaknya  kacau. Otaknya kacau. Otaknya kotor. Bicaranya bocor. Tapi begitu dia berkata bahwa dia menginginkan sesuatu, hari berikutnya segalanya telah tersaji. Semua yang dimintanya didapatkannya. Di mana keadilan Allah?”

Rasanya saya punya banyak kata-kata untuk menghakiminya. Saya bisa saja mengatakan, “kau terlalu sombong dengan ibadahmu. Kamu menganggap hina orang lain. Kamu tertipu dengan kebaikanmu sebagaiman iblis terlena! Jangan heran jika doamu tidak diijabah. Kesombonganmu telah menghapus segala kebaikan. Nilai dirimu hanya anai-anai beterbangan. Mungkin kawan yang kau rendahkan jauh lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah karena merahasiakan amal salihnya!”

Saya bisa mengucapkan semua itu. Atau banyak kalimat kebenaran lainnya.

Tapi saya sadar. Ini ujian dalam dekapan ukhuwah. Maka saya memilih sudut pandang lain yang saya harap lebih bermakna baginya daripada sekadar terinsyafkan tapi sekaligus terluka. saya khawatir, luka akan bertahan jauh lebih lama daripada kesadarannya.

Maka saya katakan padanya, “Pernakah engkau didatangi pengamen?”

“Maksudmu?”

“ya pengamen,” lanjut saya seiring tersenyum. “Pernah?”

“Iya pernah.” Wajahnya serius. Matanya menatap saya lekat-lekat.

“Bayangkan jika pengamennya adalah orang yang berpenampilan seram, bertato, bertindik, dan wajahnya garang mengerikan. Nyanyiannya lebih mirip teriakan yang memekakkan telinga. Suaranya kacau balau, sengau, parau, sumbang, dan cempreng. Lagunya malah menyakitkan ulu hati, sama sekali tak dapat dinikmati. Apa yang akan kau lakukan?”

“Segera kuberi uang,” jawabnya, “agar seger berhenti menyanyi dan cepat-cepat pergi.”

“Lalu bagaiman jika pengamen itu bersuara emas, mirip dengan Ebiet G. Ade atau Sam Bimbo yang kau suka, menyanyi dengan sopan dan penampilannya rapi lagi wangi, apa yang kau akan lakukan?”

“Kudengarkan, kunikmati hingga akhir lagu,” dia menjawab sambil memejamkan mata, mungkin membayangkan kemerduan yang dicanduinya itu. “Lalu kuminta dia menyanyikan lagu yang lain lagi. Tambah lagi dan lagi.

Saya tertawa.

Dia tertawa.

“kau mengerti kan? tanya saya. “Bisa saja Allah juga berlaku begitu kepada kita, para hamba-Nya. Jika ada manusia fasik, keji, mungkar, banyak dosa, dan dibenci-Nya berdoa memohon kepada-Nya, mungkin dia berfirman kepada para malaikat:” cepat berikan apa yang dia minta. Aku muak dengan ocehannya. Aku benci menyimak suaranya. Aku risi mendengar pintanya!”

“Tapi,” saya melanjutkan sambil memastikan dia mencerna setiap kata, “bila yang menengadahkan tangan adalah hamba yang dicintai-Nya, yang giat beribadah, yang rajin bersedekah, yang dicintai-Nya, yang menyempurnakan yang wajib dan menegakkan yang sunnah; maka mungkin saja Allah akan berfirman pada malaikat-Nya: ‘Tunggu! Tunggu dulu apa yang menjadi hajatnya. Sungguh Aku bahagia bila dia meminta. Dan biarlah hambaku ini terus meminta, tetap berdoa, terus mengiba. Aku menyukai doa-doanya. Aku menyukai kata-katanya dalam tangis isaknya. Aku menyukai khusyuk dan tunduknya. Aku menyukai puja dan puji yang dilantunkannya. Aku tak ingin dia menjauh dariku setelah mendapat apa yang ia pinta. Aku mencintainya.”

“Oh ya?” matanya berbinar. “Betul demikiankah yang terjadi padaku?”

“Hmm..pastinya aku tak tahu,” jawab saya sambil tersenyum. Dia agak terkejut. Segera saya sambung sambil menepuk bahunya. “Aku hanya ingin kau berbaik sangka.”

Dia tersenyum. Alhamdulillah..

source: Salim A Fillah:Dekapan Ukhuwah

Posted in: Hadharah