Dan Mereka Bersaudara Karena Allah

Posted on June 29, 2012

1


Di keping mata uang perjuangan islam, Muhajirin dan Anshar mencetak peran agung di masing-masing sisinya. Masing-masing sisi mata uang itu ditempa dengan palu godam kesulitan, kenestapaan, rasa sakit dan airmata, lalu dikilapkan dengan kerelaanm. dan cinta.

 

Terperangah kota Qadisiyah menyaksikan pasukan Muhajirin dan Anshar menyeberangi sungai yang membatasi mereka dengan pasukan persia. Bangsa Arab yang ‘tak mengenal air’  itu menjadi begitu berani, saling bergandengan tangan, berangkulan membelah Eufrat yang deras.

 

Cerita belum usai, ada yang membuat lebih terperangah. Rombongan besar itu tiba-tiba berhenti di tengah arus yang ganas dengan semuanya membungkuk meraba-raba ke dalam riak. “Qa’abku! Qa’abku! Kantong airku, kantong airku terjatuh. Hal itu membuat puluhan ribu tangan seketika mengaduk-ngaduk Eufrat untuk mencarinya.

 

Panglima persia dan pasukannya yang sedang dag-dig-dug menanti di seberang dengan mata pedang yang terhunus  tercekat tenggorokannya. Hanya karena sebuah kantong air pasukan mengaduk-aduk sungai raksasa? “Lalu bagaimana kalau salah satu dari mereka terbunuh oleh kita?” Serunya

 

Yah, mereka tidak akan pernah mengerti tentang ukhuwaah sebelum merasainya. Jika pedang menebas salah satu dari pasukan muslimin, yang kena pedang tak akan berteriak karena ia merasakan cubitan yang mengantarnya menuju keridhaan Rabbnya. Yang justru akan berteriak adalah saudara seiman yang berada di sampingnya! “”Aaaaaah!” melengking teriakannya,” Saudaraku,  engkau mendahuluiku ke surga! Engkau mendahuluiku ke surga!”

 

Subhanallah!

Posted in: Hadharah