Celupan Warna Ilaahi

Posted on June 29, 2012

3


BIla suatu ketika engkau berkesempatan menatap pelangi, nikmatilah dengan rasa syukur penuh. Matahari telah menyediakan warna-warni itu sejak lama, setiap saat. Tetapi hujanlah yang memperlihatkannya kepada kita. Terbayangkah kau jika sebuah planet bening tiba-tiba hadir di antara surya dan buana, maka sang mentari akan menunjukkan wajah warna-warni? Tetapi tidak. Yang indah justru pelangi itu. Dengan segala suasana yang menengahi batin kita. Kerja-kerja alam yang diatur Sang Maha Pencipta  terasa begitu menakjubkan.

 

 

                                                                     

“Celupan warna Allah, siapakah yang lebih baik dari celupan warnanya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah.(Al-baqarah 138)

 

Bagaikan kain putih yang telah terkena beberapa  noda, pribadi-pribadi mukmin kemudian dicuci dengan syahadat yang mereka ikrarkan. Allah kemudian memberi warna dengan CelupanNya. Celupan warna dengan cita rasa ilahi yang tinggi. Jika sang hamba terus menjaga amalan wajibnya, kemudian ia bertaqarrub dengan amalah sunnah dan nafilah, maka celupan warna itu menjadi gerak kehidupan yang memancarkan kemuliaan dan keagungan.

 

“..tidaklah hamba-hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan susuatu yang telah aku sukai dengan hal-hal yang aku wajibkan. Dan hambaKu akan terus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan nafilah sampai Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencitainya , aku akan Menjadi pendengarannya di mana ia mendengar dengannya. Maka Aku akan menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya. Aku akan menjadi tangan di mana ia bertindak dengannya. Dan aku akan menjadi kaki yang mana ia berjalan dengannya. ..(HR. Al Bukhari, dari Abu Hurairah)

 

Tentang warna-warni itu? Ya. Islam tidak menghapus karakter khas dari pemeluknya yang tidak bertentangan dengan Aqidah. Islam justru membingkainya menjadi  kemuliaan karakter-karakter yang menyejarah. Bahkan Rasulullah  menyebutkan” Khiyaruykyum fil jahilyyah, khiyarukum fil islam...orang-orang yang terpilih di masa jahiliah akan menjadi sosok yang terpilih pula di masa keislamannya..”

 

Lihatlah dua sosok yang bayangannya saja begitu agung itu. Abu bakar dan Umar, dua sosok yang begitu kontras dalam singsingan fajar ummat Muhammad ini. Abu bakar begitu kururs sampai sarungnya selalu mengulur ke bawah, sedang Umar pernah membuat empat makmun jatuh terjengkang karena bersinnya saat memeriksa shaf shalat…Masyaallah! Rasulullah mengkhususkan keteladanan pada mereka berdua setelah beliau. Ini mengisyaratkan bahwa gabungan karakter keduanya sudah mewakili karakter manusia mulia dalam islam.

 

Ikutilah jejak keduanya sesudahku. Abu Bakar dan Umar.”

Posted in: Hadharah