Derai-Derai Sesal

Posted on June 12, 2012

0


 

 

Tidak bisa, mimpiku selalu sirna. Meski malam telah menyarang ke kedua mataku. Karena di bayang-bayangi oleh kenangan masa lalu yang mencekam di ubun-ubun. Aku duduk di meja, sambil terhenyak. Aku merasa bahwa kebencian terus menggumpal di dadaku. Kepada mereka yang telah menyulut api peperangan di negeri ini. Padahal kami ingin semuanya damai..

Separuh dari malamku ini benar benar kuhabiskan hanya untuk menikmati desau angin yang terus berdesis memenuhi rongga dadaku. Juga mendengar rintihan gaib di sana-sini semacam sepakan sepatu kuda yang lari tunggang langgang. Disela lolongan panjang yang menakutkan dari arah yang tak dikenal.

Lampu minyak itu menari, berkejap-kejap hampir mati. Tubuhku juga bergerak aneh dibuatnya. Tebal selimut ini tak bisa menghangatkan tubuhku. Aku bangkit lagi menarik beberapa kain lalu kuselimuti diriku dengan kain yang berlapis-lapis, berharap segenap jiwa dan ragaku dapat tenggelam ke dalam mimpi yang membahagiakan.


Ketika ibuku masih hidup, ia adalah satu-satunya makhluk yang paling mengerti kebutuhanku. Aku menganggap bahwa tidak ada siapa-siapa di dunia ini selain ibuku. Aku tak punya ayah. Ibuku sekaligus ayahku. Demi hidupku, ia menghabiskan separuh hidupnya di sini. Setidaknya membantu para tentara untuk mempersiapkan makanan atau mengobati mereka yang terluka. Usiaku tujuh belas tahun ketika itu. Aku tak tahu sebabnya. Tapi saat itu ia berkirim surat. Katanya, Tuhan melambaikan tangannya di sana. Dan aku menangis, aku benar-benar merindukannya. Ia benar-benar ingin meraih syurga secepatnya.

Terkadang aku membayangkan di sini, kelak aku akan menemui jejaknya di belantara bisu ini. Menciumi kembali baunya yang tersisa. Memeluk jejak-jejaknya yang membekas. Atau sekadar percik-percik wangi darahnya. Aku bisa mengenali itu, sungguh.

Mimpi yang menghangatkan sekaligus membingungkan. Aku seolah berada dalam desiran darah yang menderas. Muncul dari kaki langit, sebuah lubang raksasa mengaga. Membentuk sebuah tangga-tangga semesta yang menghubungkan ke singgasana langit. Lalu gelombang darah itu tiba-tiba menenggelamkan semua: Hutan, sungai,  gurun, kota, desa, para mujahidin yang bertempur atas nama Tuhan; dan aku tentara dari ujung benua juga atas nama Tuhan, dan para mujahidin lainnya yang kami dalam simpul kalimat tauhid; Kelinci, rubah, burung hering, belatung dan semut…..tsunami darah  yang menerjang hingga ke perbatasan, pucuk matahari yang basah kuyup hingga Masjid  yang berisikan ulama-ulama yang mencintai syahid. Semuanya tumbang. Segenap ideology, manifesto dan polemic yang selalu menjadi garda terdepan atas nama kedamaian dan kehancuran tersapu dan lebur dalam darah. Dunia berada di tepian armegeddon.
Dunia basah kuyup oleh air mata dari planet entah berantah. Segalanya telah berakhir. Segalanya telah tammat. Lalu ribuan burung berkumpul di zamrud yang sepi. Kepakan sayapnya seperti alunan musik langit yang syahdu. Kepakan itu terdengar bertalu-talu, terus menerus. Menghanyutkan semuanya dalam gelobang pasang, menenggelamkan semua dalam deru, menerkam semua bising, menelan semua kepayahan.

Musik yang ganjil itu melinglungkanku. Aku terapung di udara. Aku ketakutan tanpa ampun. Aku menengadah ke udara. Di sana, di kaki langit, pada tangga yang tegak sampai ke singgasana langit, turun cahaya benderang. Suara musik itu lalu menggiringku mendekat tangga langit itu. Lalu seberkas cahaya itu berubah wujud menjadi ibuku. Aku segera meluncur menghambur memeluknya. Tetasan air mata tumpah  ruah ke pakaian harum yang ia pakai. Tumpah seluruhnya tanpa tersisa. Aku terisak sejadi-jadinya.

“Aku rindu ibu…”potongan kalimat itu terucap dari bibirku. Setelah itu aku mendongakkan wajahku ke wajah ibuku. Dia tampak begitu bercahaya. Aroma lahut tercium mendesak-desak di lubang hidungku. Kulihat air mata menyusuri kerutan di pipinya. Rasanya aku benar-benar berada di dunia nyata. Aku memeluknya lagi dengan sangat erat. Dengan lembut kedua tangannya memegang pundakku dan mendudukkan aku kembali ke bumi dengan perlahan. Sama seperti ketika ia masih hidup, ia selalu melakukan itu ketika menasihatiku: Memengang pundakku dan mengisyaratkan aku agar duduk berhadapan dengannya.

Duduklah kami saling berhadapan.

“Apa yang kau lakukan di sini nak?” Getaran suaranya terasa merambat naik menuju ubun-ubunku. Suara itu seperti mantra yang yang ditiupkan di kepalaku. Gaya bicaranya lebih mirip dengan intimidasi. Namun demikian tatapannya masih menyejukkan hatiku.

“Aku ke sini untuk berjuang dengan nama Tuhan bu! Sama seperti yang ibu lakukan dulu.”
Ibuku tersenyum.
“Kembali saja. Semuanya hanya sia-sia belaka.”
“Apa maksud ibu?

Ibuku lalu berdiri. Nampak percikan-percikan cahaya tiba-tiba memenuhi sekitarnya. Percikan itu seolah memenuhi bumi. Aku tidak bisa memandang selain tubuhnya dan cahaya yang memancar darinya. Bumi yang tengah porak-poranda itu juga ikut terdiam.

“Belumkah sampai kepadamu tentang kabar itu?”
“Aku benar-benar tidak memahaminya tentang apa yang kau bicarakan bu.”
“Apa yang kau inginkan dari perjuanganmu ini?”
“Surga Allah.”
“Menurutmu, kapan kau akan menikmati surga itu?”
“Setelah aku mati. Lalu saat kiamat telah tiba, aku akan masuk surga tanpa hisab.”
“Nah itu dia masalahnya. Pulanglah. Ini sia-sia.”
Aku menghela nafas. Tertunduk lesu. Mengalami kebimbangan yang luar biasa.
“Nun  jauh di sana. Sebuah negeri yang kaya raya menantimu. Negeri asal kita. Pulanglah ke sana. Tidak ada yang bisa kau dapatkan di sini. Di sini negeri yang bising. Sejauh mata memandang hanya lembah  berisikan mayat tak berdosa yang meratap sebagai korban peperangan. Juga bau amis darah yang mengganggu ketentraman hari-harimu. Semuanya sia-sia. Pulanglah!”

“Di sini memang sudah seharusnya begitu, bukankah begitu? Tapi di sinilah ladang surga bagi mereka perindu-perindu surga.!”
“Sudahlah. Hentikan mimpimu tentang surga. Surga yang sesungguhnya justru berada di negeri kita.”
“Aku benar-benar tidak faham maksud ibu. Bukankah ibu juga berjuang seperti ini dahulu?”
“Iya, dan tidak apapun yang kudapatkan.”
“Maksudnya?”
“Tidak ada balasan surga atau neraka.”
“Maksudnya?”
“Tidak ada balasan surga bagi yang berbuat baik dan tidak ada siksa neraka bagi yang berbuat jahat.”
Aku terdiam. Mencoba memandangi sekali lagi wajah ibuku. Apakah benar dia adalah ibuku? Ia lalu datang mendekatiku. Sangat dekat. Di telingaku ia berbisik,
“Kau tahu, kenapa tidak ada lagi surga dan neraka? Karena kiamat dibatalkan. Hari pembalasan ditiadakan. Dan aku adalah malaikat yang ditugaskan untuk mensosialisasikan keputusan Tuhan kepada seluruh manusia. Sekali lagi kiamat dibatalkan.”

.Tak ada shalat subuh untuk pagi ini. Yang lainpun tak kusaksikan sebagaimana yang selalu aku saksikan di belantara ini. Semuanya terdiam dalam bayang-bayang yang tidak bisa dijelaskan. Mungkinkah mereka semalam telah didatangi oleh malaikat seperti yang datang dalam tidurku? Apakah rupa malaikat yang mendatanginya adalah rupa ibuku juga, atau kekasih yang mereka sangat cintai?
Aku berbaring di tanah, membenamkan wajahku ke rumput-rumput. Oh, Tuhan aku mengerti sekarang….kabut pagi membasahi pakaianku. Duri-duri menggelitik betis dan punggungku, menggoresnya hingga terasa seperti digaruk. Aku dapat merasakan matahari meresap ke cela-cela dinginnya pagi. Membakar kulit wajah, kepala dan tengkuk leherku dengan jutaan  pancaran sinarnya. Untuk pertama kalinya dalam  hidupku aku dapat memahami tentang arti hidup dan sebuah kebenaran dan kebatilan. Aku lalu berguling-guling di atas rumput.

Aku tetap seperti itu untuk beberapa lama. Dan mataharipun terus menyapuku oleh kehangatan yang lembut. Aku tak bergerak. Aku terpesona dengan kenangan mimpi semalam. Meluncur deras memenuhi otak dan jiwa-jiwaku, untuk beberapa waktu. Dalam harmoni yang tak terelakkan. Dalam sunyi kepalsuan yang tak terbendung. Antara kenyataan dan khayal yang saling beraduk. Kutemukan wajah-wajah, lanskap, bisikan-bisikan, suara, tawa dan seriangai aneh mengapung dalam kesadaran dan ketidak sadaranku. Aku belum pernah merasakan perasaan seaneh ini. Aku seperti terbebas dari jeratan yang mengikatku sepanjang catatan kehidupanku. Kebaikan yang kulakuan hanya kepalsuan tanpa ketulusan yang hakiki. Kebaktian kepada Tuhan yang berkedok ibadah setelah diiming-imingi dengan keindahan janji  surga Tuhan. Aku lalu menemukan diriku disejajarkan dengan kumpulan orang munafik disepanjang sejarah anak adam.

Hingga tanah yang berada di bawahku semakin hangat. Kabut pagi telah menguap besatu dengan udara panas. Rumput ini telah menjadi naungan hijau yang membentang. Suara pesawat tempur di udara bergemuruh di atap bumi. Meluncur seperti burung yang hendak menerkam. Aku tak perduli, semuanya tak perduli. Untuk apa berjuang? Tak ada lagi yang bisa diteriakkan atas nama kebenaran. Tak perlu lagi mengangkat senjata. Lebih baik membenamkan kepala bersembunyi di sini, atau mencari gua-gua perlindungan yang paling aman. Tengah malam nanti aku akan menyelinap keluar dari hutan ini. Di balik sini, negeriku yang tentram sudah menunggu. Tak ada hukuman bagi pejuang yang lari dari medan pertempuran sekarang. Karena tak ada lagi hari pembalasan.

Pesawat terus menderu melintasi langit. Lalu pesawat itu berbelok ke arah selatan. Menjatuhkan beberapa butir bom dan meledak. Dentumannya tak mengguncangkan jiwaku untuk segera angkat senjata. Semuanya lengang, para pejuang-pejuang yang lainnyapun tampaknya demikian: memikirkan dan bertindak seperti apa yang berada di benakku. Sebidang tanahpun nampak tenang-tenang saja. Sepertinya sebuah keajaiban memintal bidangan ini di sepanjang jalan peperangan. Karena aku menyaksikan tanah di sekitar ini sudah berlubang tak karuan.

Terus saja hujan bom menyerbu tanpa henti. Selama hampir sejam aku hanya terdiam dan menyaksikan semuanya dengan tenang. Pesawat tempur itu terus berkilau-kilau di bawah cahaya matahari. Jutaan peluru yang menghujam nampak seperti  awan berbentuk anai-anai raksasa dengan sayap lumpuh.

Aku linglung. Ombak hitam menerjang. Mendadak lamunanku terpotong. Bintik darah bercampur kelam terbentang di sepanjang pandanganku. Di kaki langit muncul rakit-rakit lusuh yang semakin lama semakin banyak. Lalu muncul ribuan orang-orang yang berputus asa masing-masing berpegangan pada rakit itu. Mereka itu tidak lain adalah para mujahid-mujahid sahabat-sahabat kami. Aku linglung, semakin linglung.

“Apa ini, dimana aku?”
Aku lalu mendekati seorang di antara mereka. Para mujahid itu, termasuk aku berkerumun seperti kumpulan belatung mengerumuni bangkai. Meloncat-loncat saling berdesakan menaiki masing-masing rakit lusuh.
Gelap.

“Apa ini, dimana kita?”
“Kita sedang berada di tepian akhirat. Sebentar lagi rakit ini akan mengantar kita ke surga atau neraka. Bersiaplah…!” jawab mujahid yang berada di dekatku.
“Apa kita sudah mati sekarang?”
“Apakah kau sudah lupa dengan jutaan butir bom yang menghantam daerah pertahanan kita?”
Aku lalu menjerit menaiki rakit-rakit lusuh itu. Di kaki langit teriakanku terdengar menjadi derai-derai penyesalan. Memasrahkan nasib di hadapan mahkamah Tuhan.

Posted in: Cerpen