For, my Lachel…

Posted on May 12, 2012

9


Image

jika kau membaca ini, kumohon jangan bilangi aku lebai!

Tulisan ini kubuat saat aku kembali dari rumahmu, tadi malam

meramu duka

segala kecemasan mengunyah tabuhan irama pemberontakan.

(  padaku) dan padanya segala menjadi senja

 merdu titik dan orgasme melodi adalah puisi

pada cinta tanpa suara

 

Oh dua tahun sudah, ya genap dua tahun aku seperti pengembara di tenganh rimba yang bisu. Berjalan serasa dengan tanpa kedua kaki. Melihat sekeliling hanya kebisuan patung purba  yang menghembuskan aroma kematian, aroma itu menggantung di hidungku. Terasa sekali. Aku tak kuasa, sungguh. Bayangmu adalah wujud nyata di otakku. Dulu membuat bibirku mekar, tapi sekarang bayangan itu hanya menambah goresan kerutan demi kerutan di antara kedua alisku. Aku benar-benar rindu, dan itu membuat aku serasa semakin menua.

Masih ingatkah kau, waktu enam bulan semenjak janji itu kita ikrarkan- yang mestinya kulilit seribu simpul- melompat dari mulutmu, sejak itu aku belajar menulis. Menulis semua yang kufikirkan, tapi lebih banyak bercerita tentangmu. Aku seperti menyetubuhi jejak kisah  di mana selalu ada kita di situ. Kutulisnya menjadi puisi, kutulisnya menjadi essai seperti cita-cita kita, dan kutulisnya menjadi sebuah novel. Aku sangat bersemangat Lachel, semenjak kau “besyahadat” di hadapanku seperti bai’at pengikut Muhammad saw di Baiturridwan. Yah, dan aku bahkan sudah menelurkan beberapa karya: 76 essai, puluhan puisi dan satu buah novel yang berjudul Menidurkan Matahari. Kamu ingat kan dengan novel itu? Aku pernah menyodorkan di hadapanmu dan kau membacanya dengan tersenyum. Waktu tiga bulan untuk novel yang berjumlah 240 halaman adalah hal yang fantastis bagi seorang penulis pemula seperti aku.

“Yu, novelmu bagus. Kapan diterbitkan?”

Aku hanya tersenyum lalu berkata,” Tidak, ini untuk maharmu kelak.”

Dan kau harus tahu, tidak satupun tulisanku yang kukirim ke penerbit, karena aku masih mencarimu….menunggumu terus dalam sunyiku.

…..

Semua hal yang kulihat, kudengar, dan kukerjakan adalah jembatan yang menghubungkan antara aku dengan masa laluku. Antara aku dengan kau.

Aku rindu, sungguh. Kedua mataku menjadi buta jika tidak. Kau pergi, menimbun jejakmu sendiri dengan cakar-cakarmu menjadi timbunan sampah yang berserakan. Aku lemah, di sini aku mengerang kesakitan melawan rasa sakitku. Kau membunuhku pelan-pelan tanpa ampun.

Tapi Malam ini kau memanggilku dengan menyebut namaku: “Yu’, “ Begitu kau memanggilku dari balik telepon, suaramu masih seperti yang dulu menyebut namaku dengan kemanjaan yang khas. “Jenguk aku, aku sedang sakit.” Aku de javu, segala kenangan ditarik dari jagad waktu kembali pulang malam ini. Aku bergetar. Ini pertama kalinya kudengar suaramu setelah hari  itu kau pergi. Rizqi Lachel El-Gani, kau telah kembali, darimana saja kau ha? Tumpah ruah air mataku.

“Kau  di mana?” Tanyaku, dengan bibir menggigil.

Lalu kau menjelaskan tempat tinggalmu secara detail.

Lachel, aku hampir saja berputus asa.

 

 

NB: Ini notes lama. Telah berlalu beberapa bulan, bahkan hampir setahun. Novel yang disebutkan di atas telah berganti judul sekarang: Mengendarai Mimpi dan sudah terbit…

 

 

Artikel terkait:

 

 

 

Posted in: Cerpen, Hikmah