Di Sinilah Sejarah Hatiku Bermula

Posted on May 12, 2012

0


Surat ini kutulis untuk melukis suasana hatiku dan berusaha membuatnya tenang, setelah zikir panjang di malam ini telah terberai butiran tasbihnya.

Jika aku boleh meminta, maka aku meminta agar kau membiarkan aku menjadi galau, bukan untuk kali yang kemarin saja, mungkin juga bukan untuk kali ini.

Hidup galau itu katanya  menyesakkan dada, tapi tidak dengan aku. Kedewasaanku tumbuh justru dibesarkan oleh kegalauanku. Baiklah, akan kuceritakan pertarungan batinku sepanjang beberapa tahun terakhir ini. Tentang kau di masa depanku, tentang dia di masa laluku dan tentang aku yang sekarang ini.

Aku kedatangan seseorang yang tidak kuharapkan, lalu meninggalkan seseorang yang kuinginkan. Galau..pada akhirnya aku dipojokkan di sudut misteri yang sulit kupecahkan. Sekali lagi, itu tentang kau di masa depanku, tentang dia di masa laluku dan tentang aku di masa sekarang.

Buat apa kuceritakan ini? Agar kau sedikitnya lebih tahu tentang aku yang aku sendiri menyebutnya sebagai lelaki teka-teki. Itu bukan kali itu saja aku mengatakannya, tapi sudah kukatakan ribuan kali kepada dia, dia, dia, dia dan kau. Maaf, aku memang sedikit masih egois. Tapi itulah aku, kamu mengerti kan? Egois karena masih memikirkan hasratku, tentang diriku yang masih labil yang memang perlu sedikit diluruskan. Perlu sedikit godam untuk memukul batok kepalaku agar segera terbangun dan melihat dengan benar-benar melihat.

Aku bahkan bersikeras, bahwa di situlah sejarah hatiku bermula. Di tepian yang tak berakar, di lembah yang padanya gemuruh tak pernah berhenti bernyanyi, dan di jalan di mana padanya tak pernah berhenti berbelok. Suka atau tidak suka, aku harus berhenti sejenak, tapi bukan berhenti berjalan. Tapi untuk menatap jalan yang manakah yang harus kutempuhi. Setelah pulih kembali energiku, aku akan berlari sekencang-kencangnya melampaui semua yang kutinggalkan. Tidak lagi berjalan, tapi berlari, berlari sejauh-jauhnya….

Mereka bilang, “cinta yang menjebakmu seperti itu kawan. Kamu masih melek dengan bunga-bunga kehidupan dan takut meninggalkannya, ini penyakit kawan.” Tapi aku katakan, tidak, tapi justru akulah yang menjebak cinta itu. Aku tidak ingin dipermainkan oleh cinta. Aku tidak ingin di atur olehnya, aku ingin akulah yang mengaturnya. Aku bisa datang dan pergi kapan saja yang aku mau. Aku bisa datang di saat aku justru tidak menginginkannya, dan aku bisa saja pergi padahal aku justru sangat merindukannya. Begitulah aku mempermainkan cinta kawan, begitu.

Kelak akan datang suatu masa dalam sejarah hatiku, seseorang bertekuk lutut dan bersujud di hadapanku. Tapi itu bukan kau, dia ataupun aku. Tapi  dia itu adalah cinta…

 

Artikel terkait:

 

 

Posted in: Cerpen, Puisi